Kamis, 05 Maret 2015
23.07
immbogor
![]() |
Pimpinan Cabang
Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah mengadakan pelatihan jurnalistik pada tanggal 22
Februari 2015 di ruang kuliah IKK FEMA IPB. Pelatihan ini dihadiri oleh 33
peserta dari 3 komisariat yaitu PK. IPB, PK. STKIP Muhammadiyah, dan Tazkia.
Selain kader- kader IMM, pelatihan ini juga diikuti Komunitas Magazine Pondok
Mualimin Leuwiliang dan Komunitas Jurnalistik Tazkia.
Sebagai ketua
panitia acara ini Ahmad Sahl mengatakan,”Pelatihan jurnalistik ini bertujuan
untuk menumbuhkan rasa cinta menulis dan berfikir kritis bagi semua kader IMM.”
Pemateri pada
pelatihan ini adalah Ridlo Abdillah, beliau adalah salah satu jurnalis yang
sudah berpengalaman. “Setelah mengikuti pelatihan ini orientasi kita adalah
teman- teman akan memiliki jiwa jurnlaistik.”Tutur Ridlo.
Kata jurnalis
pasti tidak asing lagi bagi kita. Jurnalis adalah orang yang mencari informasi
dan menuliskannya. Jurnalis dapat disebut juga profesi orang sebagai penulis
dan wartawan. Sebagai jurnalis tidak perlu menggunakan peralatan yang ribet,
melainkan hanya dengan modal buku dan pena dapat menjadi jurnalis hebat asal kita
mampu menulis sekreatif mungkin.
Hal- hal yang
harus diperhatikan dalam menulis berita mencakup 5W + 1H yaitu What, Who,
Where, When, Why, and How. Adapun strategi dalam menulis berita meliputi; judul
harus lugas, provokatif, dan menarik. Judul yang efektif terdiri dari 5- 7
kata. Lead (teras berita) berisi informasi yang paling penting terdiri 1
paragraf terdiri 2- 3 kalimat. Paragraf isi yaitu isi dari berita yang
diuraikan secara ringkas, jelas, padat yang terdiri 1 paragraf maksimal 65
kata. Penulisan berita tidak lupa menggunakan kaidah S- P- O- K, semua pasti
tahu lah ya kan udah diajarkan dari sekolah dasar.
Pelatihan ini
tidak hanya teori saja melainkan peserta mempraktikan dengan mencarita informasi
dan menuliskannya. Peserta bebas mencari informasi yang meraka anggap menarik
untuk dijadikan berita.
“Pelatiahannya
bagus, menambah wawasan bukan hanya teori tetapi keadaan riil di lapangan.”
Ujar Sani salah satu peserta jurnalistik
Pelatihan ini
pun mendapatkan tanggapan positif dari ketua PC IMM yaitu Rizky Riyanto yang
mengatakan,“Kegiatan yang bagus untuk diikuti seluruh kader, terus tingkatkan
jurnalistik untuk meningkatkan budaya menulis.”
Pelatihan
jurnalistik ini tidak hanya sebatas menambah pengetahuan saja, melainkan untuk
menamkan jiwa menulis dan berfikir kritis bagi kader sehingga kader dapat
menuliskan ide kreatifnya ke dalam media masa maupun media sosial. Semoga
pelatihan ini bermanfaat bagi kita semua. IMM, jayaaaa... :D
Bidang Ilmu Pengetahuan
dan Riset
PC. IMM Bogor
Senin, 24 Maret 2014
16.26
immbogor
1. Menghapus pemberitaan tersebut..
2. Memuat klarifikasi dan permintaan maaf
3. Ke depannya agar lebih teliti dalam memuat berita mengenai umat Islam.
Alasan:
1. KH. Muhyidin Junaedi selain sebagai ketua Bid. hubungan luar negeri MUI adalah ulama Muhammadiyah di lingkungan Kota Bogor. Beliau pernah menjadi ketua PDM Kota Bogor dan masih rutin sebulan sekali mengisi pengajian di Mesjid Al Furqon PDM Kota Bogor. Ketika Musycab IMM pun beliau hadir sebagai pemateri seminar, kami mengenal beliau cukup dekat dan tahu faham keagamaan beliau. Tidak mungkin beliau menyeru umat Islam untuk memilih caleg non-muslim.
2. Beliau telah memberikan klarifikasi dengan memberi sms kepada Ustadz Yunahar Ilyas salah seorang ketua PP. Muhammadiyah sebagai berikut: "Itu salah kutip dari koran lokal,pernyataan saya adalah refrensinya Ali Imran 118-120 agar mmemilih pemimpin yang seaqidah dan seiman,sementara memilih yg berbeda iman dlm kontek keindonesiaan tak melanggar UU karena negara indonesia bkn Daulah islamiyah ,bkn juga negara agama tapi negara sekuler.Saya sdh klarifikasi pernyataan tsb.Mui Sumut telah memberikan penjelasan seusai rpt hari jumat"
Saran
Voa-Islam dan kawan-kawan mempunyai tujuan mulia, yakni menjadi media alternatif dari media sekuler yang terkadang tidak adil terhadap umat Islam. Media sekuler dirasa kurang melakukan tabayyun, suka seenaknya membuat berita, dll. Oleh karena itu maka muncullah media alternatif seperti voa-islam dll. Namun tolong dalam melakukan pemberitaan, jangan sama saja dengan media sekuler. Kurang tabayyun, pemelintiran judul, dll. Janganlah cara-cara media sekuler untuk memojokan umat Islam malah ditiru oleh media Islam sendiri, media Islam harus memberi uswah hasanah kepada media-media non-Islami.
Penutup
Sebagai manusia tentu kita tidak bisa lepas dari khilaf, apalagi sebagai sesama muslim kita harus tetap menjaga silaturahim, Jika voa-Islam telah memenuhi tuntutan kami di atas, maka kami nyatakan perkara selesai dan mari saling memaafkan.
Bogor, 25 Maret 2014
Ttd.
Kabid. Kader PC. IMM Bogor
Selasa, 18 Maret 2014
03.53
immbogor
“Kamu akan mengikuti perilaku orang-orang sebelum kamu sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta, sehingga kalau mereka masuk ke lubang biawak pun kamu ikut memasukinya.” Para sahabat lantas bertanya, “Apakah yang anda maksud orang-orang Yahudi dan Nasrani, ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Siapa lagi (kalau bukan mereka)?” (Hadits no. 3456 dalam kitab Shahih Bukhari )
Untuk mengetahuinya, kita bisa membaca ayat-ayat Al Quran yang memang banyak menggambarkan perilaku kaum yahudi dan nasrani yang tidak patut ditiru oleh kaum muslim. Mari kita kaji satu per satu perilaku-perilaku tersebut.
1. Tidak Bersyukur dan Ingkar Janji
Hai Bani Israil, ingatlah akan nikmat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepadamu, dan penuhilah janjimu kepada-Ku, niscaya Aku penuhi janji-Ku kepadamu; dan hanya kepada-Ku-lah kamu harus takut (tunduk). (QS.2:40)
Dalam ayat ini tidak secara implicit disebutkan bahwa orang yahudi itu dan kufur nikmat ingkar janji, namun kalau kita baca ayat-ayat selanjutnya dipaparkan bagaimana Allah telah memberi banyak nikmat kepada yahudi namun orang-orang yahudi malah kufur nikmat dengan menyembah sapi betina. Dalam (QS.2:63) dijelaskan lagi bagaimana Allah mengambil janji mereka untuk taat dengan mengangkat bukit Thursina. Namun dalam ayat selanjutnya lagi-lagi mereka ingkar dengan mencari ikan pada hari Sabtu dan dikutuklah mereka menjadi kera.
Hai Bani Israil, ingatlah akan nikmat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepadamu, dan penuhilah janjimu kepada-Ku, niscaya Aku penuhi janji-Ku kepadamu; dan hanya kepada-Ku-lah kamu harus takut (tunduk). (QS.2:40)
Dalam ayat ini tidak secara implicit disebutkan bahwa orang yahudi itu dan kufur nikmat ingkar janji, namun kalau kita baca ayat-ayat selanjutnya dipaparkan bagaimana Allah telah memberi banyak nikmat kepada yahudi namun orang-orang yahudi malah kufur nikmat dengan menyembah sapi betina. Dalam (QS.2:63) dijelaskan lagi bagaimana Allah mengambil janji mereka untuk taat dengan mengangkat bukit Thursina. Namun dalam ayat selanjutnya lagi-lagi mereka ingkar dengan mencari ikan pada hari Sabtu dan dikutuklah mereka menjadi kera.
2. Tidak Menjadi Teladan
Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaikan, sedang kamu melupakan diri (kewajiban) mu sendiri, padahal kamu membaca Al Kitab (Taurat)? Maka tidaklah kamu berpikir? (QS. 2:44)
Selain menegur yahudi, Allah juga memperingatkan mengenai sikap tidak satunya kata dengan perbuatan dalam (QS.61: 2-3). Dalam ayat di atas juga tersirat bahwa orang yahudi itu diberi al kitab, namun mereka tidak melaksanakan ajaran-ajaran Taurat tersebut.
Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaikan, sedang kamu melupakan diri (kewajiban) mu sendiri, padahal kamu membaca Al Kitab (Taurat)? Maka tidaklah kamu berpikir? (QS. 2:44)
Selain menegur yahudi, Allah juga memperingatkan mengenai sikap tidak satunya kata dengan perbuatan dalam (QS.61: 2-3). Dalam ayat di atas juga tersirat bahwa orang yahudi itu diberi al kitab, namun mereka tidak melaksanakan ajaran-ajaran Taurat tersebut.
3. Mencampurkan Kebenaran dengan Kebathilan
Dan janganlah kamu campur adukkan yang hak dengan yang bathil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu, sedang kamu mengetahui. (QS. 2:42)
Dan janganlah kamu campur adukkan yang hak dengan yang bathil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu, sedang kamu mengetahui. (QS. 2:42)
4. Suka Menumpahkan Darah
Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari kamu (yaitu): kamu tidak akan menumpahkan darahmu (membunuh orang), dan kamu tidak akan mengusir dirimu (saudaramu sebangsa) dari kampung halamanmu, kemudian kamu berikrar (akan memenuhinya) sedang kamu mempersaksikannya. Kemudian kamu (Bani Israil) membunuh dirimu (saudaramu sebangsa) dan mengusir segolongan daripada kamu dari kampung halamannya, kamu bantu membantu terhadap mereka dengan membuat dosa dan permusuhan; tetapi jika mereka datang kepadamu sebagai tawanan, kamu tebus mereka, padahal mengusir mereka itu (juga) terlarang bagimu. Apakah kamu beriman kepada sebahagian Al Kitab (Taurat) dan ingkar terhadap sebahagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian daripadamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat. (QS. 2:86-87)
Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari kamu (yaitu): kamu tidak akan menumpahkan darahmu (membunuh orang), dan kamu tidak akan mengusir dirimu (saudaramu sebangsa) dari kampung halamanmu, kemudian kamu berikrar (akan memenuhinya) sedang kamu mempersaksikannya. Kemudian kamu (Bani Israil) membunuh dirimu (saudaramu sebangsa) dan mengusir segolongan daripada kamu dari kampung halamannya, kamu bantu membantu terhadap mereka dengan membuat dosa dan permusuhan; tetapi jika mereka datang kepadamu sebagai tawanan, kamu tebus mereka, padahal mengusir mereka itu (juga) terlarang bagimu. Apakah kamu beriman kepada sebahagian Al Kitab (Taurat) dan ingkar terhadap sebahagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian daripadamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat. (QS. 2:86-87)
5. Menggunakan Dalil-dalil Agama untuk Kepentingan Pribadi
Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis Al Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya; "Ini dari Allah", (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang mereka kerjakan. (QS. 2:79)
Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis Al Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya; "Ini dari Allah", (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang mereka kerjakan. (QS. 2:79)
6. Fanatik Terhadap Kelompoknya
Dan orang-orang Yahudi berkata: "Orang-orang Nasrani itu tidak mempunyai suatu pegangan", dan orang-orang Nasrani berkata: "Orang-orang Yahudi tidak mempunyai sesuatu pegangan," padahal mereka (sama-sama) membaca Al Kitab. Demikian pula orang-orang yang tidak mengetahui, mengatakan seperti ucapan mereka itu. Maka Allah akan mengadili diantara mereka pada hari Kiamat, tentang apa-apa yang mereka berselisih padanya. (QS. 2:113)
Dan orang-orang Yahudi berkata: "Orang-orang Nasrani itu tidak mempunyai suatu pegangan", dan orang-orang Nasrani berkata: "Orang-orang Yahudi tidak mempunyai sesuatu pegangan," padahal mereka (sama-sama) membaca Al Kitab. Demikian pula orang-orang yang tidak mengetahui, mengatakan seperti ucapan mereka itu. Maka Allah akan mengadili diantara mereka pada hari Kiamat, tentang apa-apa yang mereka berselisih padanya. (QS. 2:113)
7. Iri dengan Agama Lain dan Mengikuti Hawa Nafsu
Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: "Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)". Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu. (QS. 2:120)
Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: "Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)". Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu. (QS. 2:120)
8. Suka Melakukan Debat Kusir
Hai Ahli Kitab, mengapa kamu bantah membantah tentang hal Ibrahim, padahal Taurat dan Injil tidak diturunkan melainkan sesudah Ibrahim. Apakah kamu tidak berpikir? Beginilah kamu, kamu ini (sewajarnya) bantah membantah tentang hal yang kamu ketahui, maka kenapa kamu bantah membantah tentang hal yang tidak kamu ketahui? Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui. (QS. 3:65-66)
Hai Ahli Kitab, mengapa kamu bantah membantah tentang hal Ibrahim, padahal Taurat dan Injil tidak diturunkan melainkan sesudah Ibrahim. Apakah kamu tidak berpikir? Beginilah kamu, kamu ini (sewajarnya) bantah membantah tentang hal yang kamu ketahui, maka kenapa kamu bantah membantah tentang hal yang tidak kamu ketahui? Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui. (QS. 3:65-66)
9. Bermuka Dua
Segolongan (lain) dari Ahli Kitab berkata (kepada sesamanya): "Perlihatkanlah (seolah-olah) kamu beriman kepada apa yang diturunkan kepada orang-orang beriman (sahabat-sahabat Rasul) pada permulaan siang dan ingkarilah ia pada akhirnya, supaya mereka (orang-orang mukmin) kembali (kepada kekafiran). (QS. 3: 72)
Segolongan (lain) dari Ahli Kitab berkata (kepada sesamanya): "Perlihatkanlah (seolah-olah) kamu beriman kepada apa yang diturunkan kepada orang-orang beriman (sahabat-sahabat Rasul) pada permulaan siang dan ingkarilah ia pada akhirnya, supaya mereka (orang-orang mukmin) kembali (kepada kekafiran). (QS. 3: 72)
10. Tidak Amanah
Di antara Ahli kitab ada orang yang jika kamu mempercayakan kepadanya harta yang banyak, dikembalikannya kepadamu; dan di antara mereka ada orang yang jika kamu mempercayakan kepadanya satu dinar, tidak dikembalikannya kepadamu kecuali jika kamu selalu menagihnya. Yang demikian itu lantaran mereka mengatakan: "tidak ada dosa bagi kami terhadap orang-orang ummi (Arab). Mereka berkata dusta terhadap Allah, padahal mereka mengetahui. (QS. 3:75)
Di antara Ahli kitab ada orang yang jika kamu mempercayakan kepadanya harta yang banyak, dikembalikannya kepadamu; dan di antara mereka ada orang yang jika kamu mempercayakan kepadanya satu dinar, tidak dikembalikannya kepadamu kecuali jika kamu selalu menagihnya. Yang demikian itu lantaran mereka mengatakan: "tidak ada dosa bagi kami terhadap orang-orang ummi (Arab). Mereka berkata dusta terhadap Allah, padahal mereka mengetahui. (QS. 3:75)
11. Berdusta atas Nama Allah
Sesungguhnya diantara mereka ada segolongan yang memutar-mutar lidahnya membaca Al Kitab, supaya kamu menyangka yang dibacanya itu sebagian dari Al Kitab, padahal ia bukan dari Al Kitab dan mereka mengatakan: "Ia (yang dibaca itu datang) dari sisi Allah", padahal ia bukan dari sisi Allah. Mereka berkata dusta terhadap Allah sedang mereka mengetahui. (QS. 3:78)
Sesungguhnya diantara mereka ada segolongan yang memutar-mutar lidahnya membaca Al Kitab, supaya kamu menyangka yang dibacanya itu sebagian dari Al Kitab, padahal ia bukan dari Al Kitab dan mereka mengatakan: "Ia (yang dibaca itu datang) dari sisi Allah", padahal ia bukan dari sisi Allah. Mereka berkata dusta terhadap Allah sedang mereka mengetahui. (QS. 3:78)
12. Menuhankan Diri Sendiri dan Para Nabi
Tidak wajar bagi seseorang manusia yang Allah berikan kepadanya Al Kitab, hikmah dan kenabian, lalu dia berkata kepada manusia: "Hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembahku bukan penyembah Allah." Akan tetapi (dia berkata): "Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, karena kamu selalu mengajarkan Al Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya. dan (tidak wajar pula baginya) menyuruhmu menjadikan malaikat dan para nabi sebagai tuhan. Apakah (patut) dia menyuruhmu berbuat kekafiran di waktu kamu sudah (menganut agama) Islam?. (QS. 3: 79-80)
Tidak wajar bagi seseorang manusia yang Allah berikan kepadanya Al Kitab, hikmah dan kenabian, lalu dia berkata kepada manusia: "Hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembahku bukan penyembah Allah." Akan tetapi (dia berkata): "Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, karena kamu selalu mengajarkan Al Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya. dan (tidak wajar pula baginya) menyuruhmu menjadikan malaikat dan para nabi sebagai tuhan. Apakah (patut) dia menyuruhmu berbuat kekafiran di waktu kamu sudah (menganut agama) Islam?. (QS. 3: 79-80)
13. Tidak Memahami Kitab Suci
Dan diantara mereka ada yang ummiy tidak mengetahui isi Al Kitab (Taurat), kecuali dongengan bohong belaka dan mereka hanya menduga-duga. (QS. 2:78)
Dan diantara mereka ada yang ummiy tidak mengetahui isi Al Kitab (Taurat), kecuali dongengan bohong belaka dan mereka hanya menduga-duga. (QS. 2:78)
Itu tadi sebagian perilaku kaum ahlu kitab pada waktu nabi masih hidup yang terekam di dalam Al Quran. Perilaku-perilaku tersebut yang diperintahkan nabi untuk diwaspadai agar kita tidak menjadi seperti mereka. Namun mari kita lihat kondisi umat Islam sekarang, apakah ada diantara 13 hal buruk di atas yang dilakukan oleh umat Islam hari ini? Kalau ada berarti prediksi nabi melalui hadits di atas adalah benar.
Walau begitu, ternyata Al Quran tetap objektif dalam merekam yahudi dan nasrani. Seburuk-buruk sifat mayoritas yahudi dan nasrani pada zaman nabi Muhammad, Al Quran masih merekam orang-orang ahlu kitab yang baik dan berbeda dengan Ahlu Kitab pada umumnya. Mereka itu tidak sama; di antara Ahli Kitab itu ada golongan yang berlaku lurus, mereka membaca ayat-ayat Allah pada beberapa waktu di malam hari, sedang mereka juga bersujud (sembahyang). (QS. 3.113) Sikap objektif yang ditunjukan al Quran ini seharusnya bisa diteladani oleh umat Islam. Seringkali saat kita sudah benci sebuah kelompok, maka segala yang berkaitan dengan kelompok tersebut kita benci, ini sikap yang kurang tepat.
oleh :
Robby Karman
Ketua Bidang Kaderisasi dan Organisasi
Minggu, 19 Januari 2014
01.04
immbogor
Pada kunjungan mereka yang kali
pertama ini mereka meminta salah satu perwakilan PC IMM Bogor untuk menjadi
pembicara mengenai Pemilu 2014 melalui perspektif kepemimpinan dalam Islam.
Kampus Unida yang terkenal dengan julukan Kampus Bertauhid ini tentunya
menginginkan mahasiswanya memilih atau menjadi pemimpin yang bernafaskan Islam,
berlandaskan Al-Qur’an dan Al Hadits dalam mengambil keputusan dan juga
menjadikan Rasulullah saw sebagai role
model kepemimpinan. Bersama-sama organisasi ekstrakampus yang lain seperti
HMI, PMII, KAMMI, dan GMNI diharapkan acara ini akan memberikan wawasan
pandangan mahasiswa Unida terhadap Pemilu 2014.
Isu mengenai Pemilu 2014 tentunya isu yang sangat seksi, dimana tahun 2014 ini merupakan tahun politik. Pemimpin yang jujur tidak bisa terlihat, karena banyaknya janji-janji bias dan pencitraan yang dilakukan oleh para calon pemimpin kita tersebut. IMM pun meilhat ini sebagai bentuk seremonial 5 tahunan yang dilakukan oleh legislatif dan juga eksekutif tingkat nasional. Kecuali bagi mereka yang benar-benar memiliki track record yang baik, dan yang paling penting adalah beriman kepada Allah. Syarat mutlak yang harus yang harus dimiliki oleh calon pemimpin kita.
Selasa, 03 Desember 2013
01.49
immbogor
Tepat
tanggal 1 hingga nanti tanggal 7 Desember, bahkan sampai saat ini pun kita
dihebohkan dengan berita adanya Program Pekan Kondom Nasional yang digulirkan
tanggal selama satu pekan kedepan, hal ini terus menuai kritik. Selain dikritik
adanya program tersebut, kemasan-kemasan programnyapun sangat ‘menjijikan’
bahkan saya pikir ini program yang bukan mengajarkan hidup sehat melainkan
mengajarkan masyarakat untuk melakukan hubungan seksual, bagaimana tidak,
program ini membagi-bagikan kondom gratis kepada masyarakat, parahnya lagi
sajian bus warna merah seolah-olah ‘menantang’ masyarakat untuk mencoba, lantas
dijadikannya kampus sebagai salah satu sasaran program dari peringatan
HIV/AIDS.
Pierre Frederick,
Senior Brand Manager Sutra dan Fiesta, mengatakan keberadaan “bus kondom”
berwarna merah akan ditunda untuk sementara. “Program games interaktif seputar
kesehatan seksual untuk sementara ini kita tunda dikarenakan banyaknya persepsi
yang salah tentang bus ini,” tulis Pierre dalam emailnya untuk detikHealth pada
hari Senin (2/12/2013).
Terlepas
dari apapun alasannya, program pembagian kondom gratis memang harus kita ‘HARAM’
kan, karena secara tidak langsung ‘memfasilitasi’ free sex dan prilaku-prilaku
sex yang menyimpang, lain halnya dengan menggunakan kemasan-kemasan seperti
memberikan pemahaman tentang pola hidup sehat, apakah dengan materi, brosur dan
famplet serta menkes sendiri memberikan penyuluhan dirasa tidak cukup...??
Lagi-lagi
saya berpikir entah apa yang ada dibenak menkes, jika ingin mengajarkan pola
hidup sehat tentunya gunakan cara-cara yang sehat pula, bukan cara-cara yang
malah mengundang penyakit yang akhirnya tinggal menunggu kehancuran, bukan lagi
malah menekan kenaikan pengguna atau masyarakat yang terjangkit virus HIV/AIDS
tapi malah akan meningkatkan peningkatan masyarakat yang terkena virus
HIV/AIDS.
Sadar
atau tidak sadar menkes kita sedang mengajarkan pola hidup yang sehat dengan
cara memberikan penyakit “bagi-bagi kondom’, terlebih fokus utamanya adalah
para remaja bukan orang tua yang sudah pada menikah. Aneh rasanya jika
anak-anak remaja bahkan kampus menjadi sasaran utama pembagian kondom gratis,
lantas setelah mendapatkan kondom gratis apakah bisa menyelesaikan masalah..??
Mubazir rasanya jika uang rakyat dibelikan kondom gratis, terlebih cara yang
paling ampuh adalah pemberian obat-obatan yang mampu mencegah virus tersebut,
periksa penyakit gratis, bukan malah membagi-bagikan kondom, membuat bus yang
‘menantang’ dan sasarannya dikampus-kampus.
Masyarakat
kita bukan masyarakat yang bodoh, coba tanya apakah untungnya mendapatkan
kondom gratis...?? terlebih bagi para mahasiswa, remaja dan anak-anak
tongkrongan...?? bukankah mereka pun jijik dengan hal itu.
Program
pembagian kondom itu jelas sangat menjijikan, sebagai seorang mentri tentu
banyak cara yang jauh lebih baik dan atraktif dalam mengemas pola hidup sehat.
Bukan malah menambah daftar penyebaran virus HIV/AIDS.
Menteri
Kesehatan RI Nafasiah Mboi bahkan dengan lantang mengatakan bahwa kondom
sekarang tidak berpori jadi akan aman digunakan untuk mencegah kehamilan dan
virus HIV/AIDS. “Bila dipakai dengan tepat, benar dan konsisten, sangat
efektif, hampir 100%. Sekarang yang dipakai adalah kondom
dari latex yang tidak berpori, dan makin banyak bukti-bukti yang
menunjukkan efektivitas kondom untuk pencegahan penyakit maupun kehamilan yang tidak
direncanakan,”.
Tapi
apakah kondom menjadi solusi aman untuk mencegah HIV / AIDS..?? Prof. DR. dr.
Dadang Hawari membantahnya. ”Saya bisa pastikan salah besar. Karena kondom
dibuat dari latex, berarti berserat berpori-pori. Kalau tidak berserat dan
tidak berpori-pori itu dari plastik. Ukuran pori-porinya 1/60 mikron, kecil
sekali. Kondom dirancang untuk Keluarga Berencana, untuk mencegah sperma.
Ukuran virus di banding sperma 1/450 kali lipat. Jadi virus HIV sangat kecil
sekali dibanding sperma yang bentuknya seperti kecebong itu.”
Prof.
Dadang mengingatkan penelitian di Indonesia lima tahun yang lalu untuk KB
dengan kondom, gagal 20 persen. “Apalagi untuk HIV/AIDS. Sekarang kenyataannya,
dengan menggunakan kondom ternyata semakin banyak pula yang terkena HIV/AIDS,
padahal kampanye sudah bertahun-tahun, pengidap HIV/AIDS semakin banyak
bukannya menurun.”
Prof
Dadang lanjut menjelaskan, “Di Amerika, 1/3 jumlah kondom yang beredar di
pasar bocor. Kesimpulan dari penelitian dari Badan POM di Amerika tahun 2005,
tidak dikampanyekan lagi kondom karena mulai gagal. Kondom untuk sperma bukan
untuk virus HIV yang sangat kecil”.
Sangat
jelas sekali bahwa pekan kondom nasional dengan membagi-bagikan kondom gratis
yang sasaran utamanya adalah remaja bahkan rencananya dikampus-kampus adalah
solusi yang sangat menjijikan. Kondom dibagikan bagi para pasangan suami istri
yang sudah menikah bukan remaja yang masih sekolah, kuliah.
Sederhananya
jika ingin memperingati hari HIV/AIDS tentu lihat negara-negara maju yang
mengemasnya secara mendidik dan ‘terkesan’ menakuti para pelakunya bukan malah
‘memfasilitasi’ dengan kemasan-kemasan yang menggoda. Befikir cerdas dalam
upaya membangun karakter bangsa dimulai dari bagaimana para mentri yang ada
menciptakan solusi dan program-program yang mendidik dan membangun bukan
sebaliknya. Kampanyekan hidup sehat dengan pola dan prilaku hidup sehat BUKAN membagikan kondom gratis.
Oleh : Abdurrahman (Sekretaris Umum PK IMM STKIP
Muhammadiyah Bogor)
Sabtu, 23 November 2013
14.48
immbogor
Etika
berasal dari bahasa yunani kuno, yaitu “ethos”
yang berarti watak kesusilaan atau adat kebiasaan (custom). Etika berkaitan erat dengan perkataan moral yang
merupakan istilah dari bahasa latin, yaitu “mos”
dan dalam bentuk jamak “mores” yang
juga berarti adat kebiasaan atau cara hidup seseorang dengan melakukan
perbuatan yang baik atau kesusilaan dan menghindari hal-hal tindakan yang buruk
(Asyila: 2007).
Untuk
menjadi seorang tenaga guru dan dosen tentunya harus memiliki beberapa
kemampuan dasar yang dibutuhkan agar bisa menjalankan tugas sebagai seorang
pengajar, diantaranya yaitu hard skill
dan soft skill, selain itu juga ada
beberapa kode etik yang harus difahami oleh tenaga pendidik dalam hal ini guru
dan dosen.
Berbicara
masalah etika dalam dunia pendidikan, bagi profesi guru sudah disusun pedoman
dalam bentuk kode etik yang telah diatur dalam organisasi Persatuan Guru
Republik Indonesia. Dan profesi
dosen dalam UU No.14 Tahun 2005 tentang
guru dan dosen serta Peraturan Pemerintah Republik Indonesia no 37 Tahun 2009
pasal1 tentang dosen menyebutkan bahwa dosen adalah pendidik profesional dan
ilmuwan dengan tugas utama mentransformasikan, mengembangkan dan
menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni melalui pendidikan,
peneltian dan pengabdian kepada masyarakat.
Wajar
jika ada pertanyaan mengapa seorang dosen harus memiliki etika, ada tiga hal yang
mendasari pertanyaan itu muncul, yakni karena :
- Dosen merupakan panutan
bagi mahasiswa dalam segala pemikiran dan aktifitasnya
- Dosen sebagai pengajar
dan pendidik yang mengajarkan kebaikan dan mendidik kebenaran
- Dosen sebagai profesi
(perlu etika profesi sebagai seorang dosen)
Dosen,
dalam dunia perkuliaahan mempunyai peranan yang sangat penting dalam upaya
pembangunan serta pengembangan kompetensi dan kapasitas mahasiswanya, sekalipun
hanya 30% dosen berpengaruh terhadap perkembangan mahasiswa tentu akan sangat
disayangkan jika dosen tidak sama sekali memberikan arahan terbaik terhadap
mahasiswanya, jangan sampai dosen ‘tebang pilih’ terhadap berbagai kepentingan
yang sama sekali tidak berimplikasi positif bagi kemajuan mahasiswanya.
Lima Unjuk Kerja
Kualitas Dosen Profesional
(C.E. Vandzandt (1990) :
- Selalu
menampilkan sikap dan perilaku yang mendekati standar ideal
- Selalu
mencari kesempatan untuk meningkatkan dan memperbaiki kualitas pengetahuan
dan keterampilan atau keahlian profesinya
- Memelihara
dan meningkatkan citra profesi
- Meningkatkan
kualitas layanan profesi dosen
- Memiliki
kebanggaan terhadap profesi dosen
Alkisah dalam suatu perguruan tinggi, ada mahasiswa
mengeluh akibat perlakuan seorang dosen yang tidak adil dan terkesan
diskriminatif sehingga mahasiswa
tersebut merasa diberlakukan sangat tidak adil, bagaimana tidak dosen
selalu membanding-bandingkan kebesaran almamaternya dan bangga akan
mahasiswa-mahasiswa yang lulusan satu almamater dengannya, terlebih
perlakuan diskriminatif dosen bersangkutan terhadap pelayanan kepada mahasiswa
‘yang disenangi’ nya dengan mahasiswa lainnya, terkesan dosen tersebut membagi
kedalam dua kelompok mahasiswa, mahasiswa yang dibanggakannya dan mahasiswa
yang tidak begitu dibanggakan, wajar jika mahasiswa tersebut merasa ada ketidak
adilan, harusnya seorang dosen mengajarkan sama rata dan sama rasa, bersikap
adil dan tidak memihak dengan beberapa mahasiswanya.
Kisah sederhana diatas tentu menjadi tanda tanya besar
apakah etika seorang dosen harus seperti itu..?? sementara dosen adalah teladan
bagi mahasiswanya, figur yang bertanggungjawab terhadap hak-hak semua
mahasiswa, memiliki kepeduliaan tinggi terhadap semua mahasiswanya tidak berat
sebelah, bersikap luhur budi, ilmiah dan jujur, mempunyai semangat juang yang
tinggi, merupakan seorang pendidik yang membimbing dan mengarahkan para
mahasiswanya kearah yang jauh lebih baik lagi, tanpa pandang bulu dan tanpa
diskriminatif. Seorang dosen harus bersikap dan bertindak adil terhadap
mahasiswa, memperlakukan mahasiswa sebagai manusia dewasa, tanpa memandang
agama, status sosial, ras dan lainnya.
Hari ini, kita sama-sama berharap guru dan dosen
khususnya dan umumnya hendaknya harus benar-benar menjadi teladan “uswah” yang baik, yang bersikap adil,
jujur dan mengayomi semua peserta didik, mahasiswa atau murid-murid yang hebat
dilahirkan oleh guru dan dosen-dosen yang mempunyai keluhuran budi, kecerdasan
spiritual yang mempuni, mampu mengayomi dan membimbing serta mempunyai
integritas yang luar biasa terhadap apa yang diembannya. Tidak lagi memikirkan
kepentingan-kepentingan yang malah akan memperburuk keadaan, profesionalisme
diuji menjadi bagian penting yang harus senantiasa dijaga.
Pada dasarnya segala aspek kegiatan dan aktifitas seorang
guru atau dosen adalah bentuk dari pengamalan dan pengalaman kode etik dan
sikap serta prilaku dalam menjalankan profesinya secara profesional. Nilai dan
norma serta kode etik yang dirancang adalah kenicayaan yang sengaja dibuat
untuk memberikan jalan, acuan dan pedoman dalam pengambilan keputusan mengenai
apa yang akan dilakukan dan diperbuat dalam berbagai situasi dan kondisi.
Civitas akademika dalam hal ini guru atau dosen berkewajiban
dan bertanggungjawab besar dalam menjaga nama baik almamater, menciptakan
suasana yang nyaman dan kondusif adalah bagian penting dalam proses pendidikan.
Sungguh suatu hal yang sangat istimewa dan merupakan renungan yang harus
sama-sama kita cermati baik-baik dengan kebesaran hati apabila seorang guru,
dosen dan tenaga pendidikan telah mampu menjalankan tugasnya dengan
sebaik-baiknya. Berbagai macam kebutuhan dan pekerjaan yang diluar dari
tanggungjawab sebagai guru atau dosen hendaknya menjadi bahan pertimbangan agar
seorang guru dan dosen benar-benar profesional dalam menciptakan
manusia-manusia yang bermutu untuk masa depan yang lebih baik. Tentu dalam hal
ini bukan hanya menjadi tugas tenaga pendidik tapi juga seluruh aspek civitas
akademika. Tapi paling tidak guru dan dosen adalah gambaran nyata contoh
terbaik yang harus senantiasa menampilkan “uswah”
dilingkungan kampus dan masyarakat. Disaat para pejabat kita sudah sangat
jarang menjadi contoh kebaikan, keadilan dan kejujuran, disinilah peran penting
seorang dosen atau guru dalam menjaga dan mencetak akademisi islam, kader
bangsa, para intelektual yang sesuai dengan arah perjuangan bangsa dan agama
dengan sikap dan teladan terbaik.
Oleh: Abdurrahman (Sekretaris Umum PK IMM STKIP Bogor)
Kamis, 21 November 2013
04.47
immbogor
Ahmad Dahlan lahir menjadi sang pencerah. Dia pembaru yang mengguncang kesadaran umat pada zamannya. Lahir di Kauman, Yogyakarta, dan wafat dalam usia muda, 54 tahun.
Karya pembaruan terbesarnya ialah Muhammadiyah yang didirikan pada 18 November 1912. Kini, Muhammadiyah telah mengukir kisah sukses untuk memajukan kehidupan bangsa. Charles Kurtzman bahkan menjulukinya sebagai sosok kebangkitan Islam yang liberal.
Di Jombang, Jawa Timur, lahir tokoh besar Islam yang lain, Hasyim Asy’ari. Tokoh pembaruan dunia pesantren itu memberi teladan akan kebesaran hati yang tulus. Suatu ketika, seseorang mengadu kepada Hasyim Asy’ari tentang pemikiran kontroversial Ahmad Dahlan.
Apa reaksi Hadlratus Syekh? “Ahmad Dahlan punya dalil, jangan memusuhinya dan bantulah dia,” ujar pendiri Nahdlatul Ulama itu. Kiai Hasyim Asy’ari tak pernah menyerang Kiai Dahlan dengan Muhammadiyah yang didirikannya. Begitu pula sebaliknya.
Kedua tokoh besar umat Islam itu memiliki hubungan dekat. Putra Kauman Yogya dan Jombang itu pernah menimba ilmu agama kepada KH Sholeh Darat di Semarang. Ketika bermukim di Makkah, keduanya bahkan sama-sama berguru kepada tokoh utama pembaru Islam, Syekh Khatib al-Minangkabawi.
Dua ulama besar itu lama hidup di negeri Wahabi dan memiliki jiwa toleransi yang melintasi. Tidak ada sepercik pun sikap arogansi dan ananiyah untuk saling menegasikan hanya karena berbeda paham dan jalur perjuangan yang dipilih.
Ahmad Dahlan juga berkawan dekat dengan Haji Oemar Said (HOS) Tjokroaminoto, tokoh sentral pergerakan kemerdekaan Indonesia. Ahmad Dahlan beberapa kali diundang ketua Sarekat Islam (SI) itu untuk memberikan pencerahan Islam yang berkemajuan di hadapan anak-anak muda haus ilmu, seperti Sukarno, Semaun, dan kawan-kawan di kediamannya di Paneleh, Surabaya.
Keduanya bahkan pernah turun ke daerah, tabligh bersama di hadapan umat. Di luar itu, Ahmad Dahlan bersahabat dengan tokoh-tokoh Boedi Oetomo, kalangan sosialis, serta berinteraksi baik dengan tokoh agama lain tanpa rasa canggung.
Memajukan kehidupan
Ahmad Dahlan, Hasyim Asy’ari, Tjokroaminoto, serta tokoh lainnya telah memberi uswah hasanah (teladan yang baik) tentang jiwa besar yang tulus, selain visi besar tentang Islam dan kemajuan hidup. Para tokoh Islam pada kemudian hari melanjutkan tradisi ukhuwah dan toleransi itu.
Mas Mansur dari Muhammadiyah dan Wahab Hasjbullah dari Nahdlatul Ulama bergandengan tangan membidani Partai Islam Indonesia (1937) dan Majelis Islam ‘Ala Indonesia (1938) yang menghimpun kekuatan politik Islam. Kedua wadah umat inilah yang kelak menjadi embrio lahirnya Partai Islam Masyumi pada 1946 hingga 1962. Visi utamanya agar umat bersatu dan berjaya secara politik.
Para pemimpin umat yang berjiwa besar sepanjang sejarah itu berpikir dan bekerja keras untuk kemajuan umat dan bangsanya tanpa pamrih. Mereka hidup bersahaja, tetapi pikiran-pikiran cerdas dan jiwa besarnya telah membangkitkan kesadaran umat untuk hidup berkemajuan.
Mobilitas tinggi para tokoh Islam itu bahkan dikhidmatkan untuk mengurus hajat hidup umat dan negerinya hingga lupa mengurus diri dan keluarganya. Jasa mereka untuk bangsa dan negara bahkan luar biasa tanpa mengharapkan balasan, ada di antaranya, Ki Bagus Hadikusuma, Mr Kasman Singodimedjo, dan Prof Kahar Mudzakir—Allahumma yarham—hingga kini belum dianugerahi gelar Pahlawan Nasional oleh pemerintah.
Kini, umat, bangsa, dan dunia kemanusiaan sejagad hidup pada fase baru abad modern. Masalah dan tantangan mengadang di depan yang sarat beban dan harapan. Umat dan bangsa ini harus dipacu untuk maju di segala bidang kehidupan agar sejajar dan bahkan unggul dibanding umat dan bangsa lain.
Kemajuan menjadi jantung strategis bagi tegaknya peradaban sebagai manifestasi kekhalifahan dan risalah rahmatan lil ‘alamin. Tanpa kemajuan, suatu umat dan bangsa hanya mampu bertahan hidup, bahkan lama-kelamaan punah.
Islam itu sungguh agama yang berkemajuan, din al-hadlarah. Islam mengajarkan agar umatnya menjadi khayra ummah (QS Ali Imran [3]: 110). Menjadi generasi ulul albab (QS Ali Imran [3]: 190-191) dan pandai membaca tanda-tanda zaman (QS Iqra [96]: 1-5).
Islam juga mengajarkan umatnya agar menjadi khalifah di muka bumi (QS al-Baqarah [2]: 30 dan Hud: 60), menjadi pelaku perubahan (QS al-Ahzab: 21), menjadi kelompok yang sadar akan masa depan (QS al-Hasyr: 18). Pendek kata, Islam mengajarkan umatnya hidup jaya di dunia dan bahagia di akhirat.
Nabi Muhammad SAW mengisyaratkan, pada setiap pergantian abad, lahir para mujadid di muka bumi yang memperbaiki agamanya. Nabi dan kaum Muslimin yang dipimpinnya bahkan hadir untuk takhrij min al-zhulumat ila al-nur, mengeluarkan umat manusia dari kegelapan menuju pencerahan.
Nabi akhir zaman itu bahkan mengubah Yatsrib yang semula komunal pedesaan menjadi pusat peradaban yang cerah dan mencerahkan, al-Madinah al-Munawwarah. Dari Madinah itulah, kemudian Islam menguasai dunia dan melahirkan era kejayaan berabad-abad lamanya ketika bangsa-bangsa lain tertidur lelap pada abad kegelapan.
Jihad pemimpin
Kemajuan merupakan keniscayaan bagi umat dan bangsa ini. Meraih kemajuan merupakan jalan jihad yang melintasi. Berlomba dengan bangsa-bangsa lain harus menjadi etos fastabiq al-khayrat.
Di sinilah keniscayaan para tokoh atau pemimpin umat yang sesungguhnya, yakni menjadi lokomotif jihad meraih kenggulan dan kemajuan. Menjadi penggerak pencerahan yang membebaskan, memberdayakan, dan memajukan kehidupan. Bukan sebaliknya, menjadi pemimpin umat yang membelenggu, memperdaya, dan membodohi umat demi mengawetkan kemapanan dirinya.
Umat Islam di negeri ini banyak yang masih rentan secara ekonomi. Mereka berhadapan dengan berbagai tekanan hidup yang sangat berat. Apa yang dapat diperbuat jika umat masih dhuafa-mustadh’afin? Kondisi umat yang ringkih cenderung yadus-sufla (tangan di bawah, penerima) ketimbang yadul-'ala (tangan di atas, pemberi).
Lebih banyak menjadi objek ketimbang subjek. Umat yang lemah tentu tidak akan menjadi pilar peradaban Islam yang berkemajuan. Jangankan untuk menjadi rahmatan lil-‘alamin, bahkan untuk mengurusi dirinya pun tertatih-tatih.
Para tokoh Islam perlu siuman secara berjamaah atas kenyataan hidup umat yang rentan dan ringkih itu. Seraya berpikir dan bekerja keras bagaimana membebaskan, memberdayakan, dan memajukan kehidupan mereka menuju kondisi yang berkeunggulan.
Menjadikan umat mencapai derajat kehidupan yang maju, bersatu, adil, makmur, bermartabat, dan berdaulat di hadapan umat dan bangsa lain. Itulah jihad pencerahan yang berada di pundak para tokoh Islam lintas gerakan di negeri ini. Baik jihad bi al-fikri maupun jihad bi al-fi'li secara total.
Pemimpin umat Islam saat ini niscaya agar progresif dan membumi, plus bekhidmat sepenuh hati. Antarpemimpin umat harus tasamuh dan tanawu’ seraya saling mendekat dan bergandengan tangan setulus hati.
Cerahkan umat dengan pikiran-pikiran jernih yang mencerdaskan kehidupan dan tegaknya akhlak mulia. “Para pemimpin perlu memudakan pemikiran dan mengembangkan Islam progresif,” kata Sukarno. “Jadilah pemimpin umat meneladani Nabi yang tidur di atas alas tikar, tetapi jelajahnya mengguncang tahta Kisra,” tulis Iqbal.
Maka, sungguh ironis manakala masih dijumpai pemimpin umat alergi pikiran-pikiran maju dan tidak membumi pada realitas kehidupan. Apabila mereka lebih banyak bicara ketimbang bekerja. Ketika bargairah tinggi dalam mobilitas masing-masing tanpa menyatukan pikiran dan langkah kolektif yang sinergis.
Para pemimpin politiknya lebih sibuk mengurus diri ketimbang melayani umat. Tatkala para ulamanya terus memproduksi fatwa, pendapat, dan pandangan yang kontraproduktif serta mengandung antmosfir saling menyesatkan.
Apalagi, kalau para tokoh umat itu saling berseberangan dan menunjukkan gestur permusuhan diam-diam. Hasil akhirnya mudah ditebak bahwa korbannya ialah umat. Umat Islam akan tetap hidup tertinggal di zona dhuafa-mustadhafin.
Dr. H. Haedar Nashir, M.Si
Langganan:
Postingan (Atom)
RSS Feed
Twitter



