Tampilkan postingan dengan label Intisari. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Intisari. Tampilkan semua postingan

Selasa, 18 Maret 2014


“Kamu akan mengikuti perilaku orang-orang sebelum kamu sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta, sehingga kalau mereka masuk ke lubang biawak pun kamu ikut memasukinya.” Para sahabat lantas bertanya, “Apakah yang anda maksud orang-orang Yahudi dan Nasrani, ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Siapa lagi (kalau bukan mereka)?” (Hadits no. 3456 dalam kitab Shahih Bukhari )


Hadits ini sangat terkenal di kalangan umat Islam. Tentu inti pesan yang ingin disampaikan oleh Rasulullah saw. adalah kita tidak boleh mengikuti perilaku orang-orang yahudi yang hidup pada masa Rasulullah saw. Pertanyaannya, bagaimana sih perilaku kaum yahudi dan nasrani yang hidup zaman Rasulullah?
Untuk mengetahuinya, kita bisa membaca ayat-ayat Al Quran yang memang banyak menggambarkan perilaku kaum yahudi dan nasrani yang tidak patut ditiru oleh kaum muslim. Mari kita kaji satu per satu perilaku-perilaku tersebut.

1. Tidak Bersyukur dan Ingkar Janji
Hai Bani Israil, ingatlah akan nikmat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepadamu, dan penuhilah janjimu kepada-Ku, niscaya Aku penuhi janji-Ku kepadamu; dan hanya kepada-Ku-lah kamu harus takut (tunduk). (QS.2:40)
Dalam ayat ini tidak secara implicit disebutkan bahwa orang yahudi itu dan kufur nikmat ingkar janji, namun kalau kita baca ayat-ayat selanjutnya dipaparkan bagaimana Allah telah memberi banyak nikmat kepada yahudi namun orang-orang yahudi malah kufur nikmat dengan menyembah sapi betina. Dalam (QS.2:63) dijelaskan lagi bagaimana Allah mengambil janji mereka untuk taat dengan mengangkat bukit Thursina. Namun dalam ayat selanjutnya lagi-lagi mereka ingkar dengan mencari ikan pada hari Sabtu dan dikutuklah mereka menjadi kera.

2. Tidak Menjadi Teladan
Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaikan, sedang kamu melupakan diri (kewajiban) mu sendiri, padahal kamu membaca Al Kitab (Taurat)? Maka tidaklah kamu berpikir? (QS. 2:44)
Selain menegur yahudi, Allah juga memperingatkan mengenai sikap tidak satunya kata dengan perbuatan dalam (QS.61: 2-3). Dalam ayat di atas juga tersirat bahwa orang yahudi itu diberi al kitab, namun mereka tidak melaksanakan ajaran-ajaran Taurat tersebut.

3. Mencampurkan Kebenaran dengan Kebathilan
Dan janganlah kamu campur adukkan yang hak dengan yang bathil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu, sedang kamu mengetahui. (QS. 2:42)

4. Suka Menumpahkan Darah
Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari kamu (yaitu): kamu tidak akan menumpahkan darahmu (membunuh orang), dan kamu tidak akan mengusir dirimu (saudaramu sebangsa) dari kampung halamanmu, kemudian kamu berikrar (akan memenuhinya) sedang kamu mempersaksikannya. Kemudian kamu (Bani Israil) membunuh dirimu (saudaramu sebangsa) dan mengusir segolongan daripada kamu dari kampung halamannya, kamu bantu membantu terhadap mereka dengan membuat dosa dan permusuhan; tetapi jika mereka datang kepadamu sebagai tawanan, kamu tebus mereka, padahal mengusir mereka itu (juga) terlarang bagimu. Apakah kamu beriman kepada sebahagian Al Kitab (Taurat) dan ingkar terhadap sebahagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian daripadamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat. (QS. 2:86-87)

5. Menggunakan Dalil-dalil Agama untuk Kepentingan Pribadi
Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis Al Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya; "Ini dari Allah", (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang mereka kerjakan. (QS. 2:79)

6. Fanatik Terhadap Kelompoknya
Dan orang-orang Yahudi berkata: "Orang-orang Nasrani itu tidak mempunyai suatu pegangan", dan orang-orang Nasrani berkata: "Orang-orang Yahudi tidak mempunyai sesuatu pegangan," padahal mereka (sama-sama) membaca Al Kitab. Demikian pula orang-orang yang tidak mengetahui, mengatakan seperti ucapan mereka itu. Maka Allah akan mengadili diantara mereka pada hari Kiamat, tentang apa-apa yang mereka berselisih padanya. (QS. 2:113)

7. Iri dengan Agama Lain dan Mengikuti Hawa Nafsu
Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: "Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)". Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu. (QS. 2:120)

8. Suka Melakukan Debat Kusir
Hai Ahli Kitab, mengapa kamu bantah membantah tentang hal Ibrahim, padahal Taurat dan Injil tidak diturunkan melainkan sesudah Ibrahim. Apakah kamu tidak berpikir? Beginilah kamu, kamu ini (sewajarnya) bantah membantah tentang hal yang kamu ketahui, maka kenapa kamu bantah membantah tentang hal yang tidak kamu ketahui? Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui. (QS. 3:65-66)

9. Bermuka Dua
Segolongan (lain) dari Ahli Kitab berkata (kepada sesamanya): "Perlihatkanlah (seolah-olah) kamu beriman kepada apa yang diturunkan kepada orang-orang beriman (sahabat-sahabat Rasul) pada permulaan siang dan ingkarilah ia pada akhirnya, supaya mereka (orang-orang mukmin) kembali (kepada kekafiran). (QS. 3: 72)

10. Tidak Amanah
Di antara Ahli kitab ada orang yang jika kamu mempercayakan kepadanya harta yang banyak, dikembalikannya kepadamu; dan di antara mereka ada orang yang jika kamu mempercayakan kepadanya satu dinar, tidak dikembalikannya kepadamu kecuali jika kamu selalu menagihnya. Yang demikian itu lantaran mereka mengatakan: "tidak ada dosa bagi kami terhadap orang-orang ummi (Arab). Mereka berkata dusta terhadap Allah, padahal mereka mengetahui. (QS. 3:75)

11. Berdusta atas Nama Allah
Sesungguhnya diantara mereka ada segolongan yang memutar-mutar lidahnya membaca Al Kitab, supaya kamu menyangka yang dibacanya itu sebagian dari Al Kitab, padahal ia bukan dari Al Kitab dan mereka mengatakan: "Ia (yang dibaca itu datang) dari sisi Allah", padahal ia bukan dari sisi Allah. Mereka berkata dusta terhadap Allah sedang mereka mengetahui. (QS. 3:78)

12. Menuhankan Diri Sendiri dan Para Nabi
Tidak wajar bagi seseorang manusia yang Allah berikan kepadanya Al Kitab, hikmah dan kenabian, lalu dia berkata kepada manusia: "Hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembahku bukan penyembah Allah." Akan tetapi (dia berkata): "Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, karena kamu selalu mengajarkan Al Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya. dan (tidak wajar pula baginya) menyuruhmu menjadikan malaikat dan para nabi sebagai tuhan. Apakah (patut) dia menyuruhmu berbuat kekafiran di waktu kamu sudah (menganut agama) Islam?. (QS. 3: 79-80)

13. Tidak Memahami Kitab Suci
Dan diantara mereka ada yang ummiy tidak mengetahui isi Al Kitab (Taurat), kecuali dongengan bohong belaka dan mereka hanya menduga-duga. (QS. 2:78)

Itu tadi sebagian perilaku kaum ahlu kitab pada waktu nabi masih hidup yang terekam di dalam Al Quran. Perilaku-perilaku tersebut yang diperintahkan nabi untuk diwaspadai agar kita tidak menjadi seperti mereka. Namun mari kita lihat kondisi umat Islam sekarang, apakah ada diantara 13 hal buruk di atas yang dilakukan oleh umat Islam hari ini? Kalau ada berarti prediksi nabi melalui hadits di atas adalah benar.

Walau begitu, ternyata Al Quran tetap objektif dalam merekam yahudi dan nasrani. Seburuk-buruk sifat mayoritas yahudi dan nasrani pada zaman nabi Muhammad, Al Quran masih merekam orang-orang ahlu kitab yang baik dan berbeda dengan Ahlu Kitab pada umumnya. Mereka itu tidak sama; di antara Ahli Kitab itu ada golongan yang berlaku lurus, mereka membaca ayat-ayat Allah pada beberapa waktu di malam hari, sedang mereka juga bersujud (sembahyang). (QS. 3.113) Sikap objektif yang ditunjukan al Quran ini seharusnya bisa diteladani oleh umat Islam. Seringkali saat kita sudah benci sebuah kelompok, maka segala yang berkaitan dengan kelompok tersebut kita benci, ini sikap yang kurang tepat.

oleh :
Robby Karman 
Ketua Bidang Kaderisasi dan Organisasi 

Kamis, 21 November 2013

Ahmad Dahlan lahir menjadi sang pencerah. Dia pembaru yang mengguncang kesadaran umat pada zamannya. Lahir di Kauman, Yogyakarta, dan wafat dalam usia muda, 54 tahun.

Karya pembaruan terbesarnya ialah Muhammadiyah yang didirikan pada 18 November 1912. Kini, Muhammadiyah telah mengukir kisah sukses untuk memajukan kehidupan bangsa. Charles Kurtzman bahkan menjulukinya sebagai sosok kebangkitan Islam yang liberal.

Di Jombang, Jawa Timur, lahir tokoh besar Islam yang lain, Hasyim Asy’ari. Tokoh pembaruan dunia pesantren itu memberi teladan akan kebesaran hati yang tulus. Suatu ketika, seseorang mengadu kepada Hasyim Asy’ari tentang pemikiran kontroversial Ahmad Dahlan.

Apa reaksi Hadlratus Syekh? “Ahmad Dahlan punya dalil, jangan memusuhinya dan bantulah dia,” ujar pendiri Nahdlatul Ulama itu. Kiai Hasyim Asy’ari tak pernah menyerang Kiai Dahlan dengan Muhammadiyah yang didirikannya. Begitu pula sebaliknya.

Kedua tokoh besar umat Islam itu memiliki hubungan dekat. Putra Kauman Yogya dan Jombang itu pernah menimba ilmu agama kepada KH Sholeh Darat di Semarang. Ketika bermukim di Makkah, keduanya bahkan sama-sama berguru kepada tokoh utama pembaru Islam, Syekh Khatib al-Minangkabawi.

Dua ulama besar itu lama hidup di negeri Wahabi dan memiliki jiwa toleransi yang melintasi. Tidak ada sepercik pun sikap arogansi dan ananiyah untuk saling menegasikan hanya karena berbeda paham dan jalur perjuangan yang dipilih.

Ahmad Dahlan juga berkawan dekat dengan Haji Oemar Said (HOS) Tjokroaminoto, tokoh sentral pergerakan kemerdekaan Indonesia. Ahmad Dahlan beberapa kali diundang ketua Sarekat Islam (SI) itu untuk memberikan pencerahan Islam yang berkemajuan di hadapan anak-anak muda haus ilmu, seperti Sukarno, Semaun, dan kawan-kawan di kediamannya di Paneleh, Surabaya.

Keduanya bahkan pernah turun ke daerah, tabligh bersama di hadapan umat. Di luar itu, Ahmad Dahlan bersahabat dengan tokoh-tokoh Boedi Oetomo, kalangan sosialis, serta berinteraksi baik dengan tokoh agama lain tanpa rasa canggung.

Memajukan kehidupan
Ahmad Dahlan, Hasyim Asy’ari, Tjokroaminoto, serta tokoh lainnya telah memberi uswah hasanah (teladan yang baik) tentang jiwa besar yang tulus, selain visi besar tentang Islam dan kemajuan hidup. Para tokoh Islam pada kemudian hari melanjutkan tradisi ukhuwah dan toleransi itu.

Mas Mansur dari Muhammadiyah dan Wahab Hasjbullah dari Nahdlatul Ulama bergandengan tangan membidani Partai Islam Indonesia (1937) dan Majelis Islam ‘Ala Indonesia (1938) yang menghimpun kekuatan politik Islam. Kedua wadah umat inilah yang kelak menjadi embrio lahirnya Partai Islam Masyumi pada 1946 hingga 1962. Visi utamanya agar umat bersatu dan berjaya secara politik.

Para pemimpin umat yang berjiwa besar sepanjang sejarah itu berpikir dan bekerja keras untuk kemajuan umat dan bangsanya tanpa pamrih. Mereka hidup bersahaja, tetapi pikiran-pikiran cerdas dan jiwa besarnya telah membangkitkan kesadaran umat untuk hidup berkemajuan.

Mobilitas tinggi para tokoh Islam itu bahkan dikhidmatkan untuk mengurus hajat hidup umat dan negerinya hingga lupa mengurus diri dan keluarganya. Jasa mereka untuk bangsa dan negara bahkan luar biasa tanpa mengharapkan balasan, ada di antaranya, Ki Bagus Hadikusuma, Mr Kasman Singodimedjo, dan Prof Kahar Mudzakir—Allahumma yarham—hingga kini belum dianugerahi gelar Pahlawan Nasional oleh pemerintah.

Kini, umat, bangsa, dan dunia kemanusiaan sejagad hidup pada fase baru abad modern. Masalah dan tantangan mengadang di depan yang sarat beban dan harapan. Umat dan bangsa ini harus dipacu untuk maju di segala bidang kehidupan agar sejajar dan bahkan unggul dibanding umat dan bangsa lain.

Kemajuan menjadi jantung strategis bagi tegaknya peradaban sebagai manifestasi kekhalifahan dan risalah rahmatan lil ‘alamin. Tanpa kemajuan, suatu umat dan bangsa hanya mampu bertahan hidup, bahkan lama-kelamaan punah.

Islam itu sungguh agama yang berkemajuan, din al-hadlarah. Islam mengajarkan agar umatnya menjadi khayra ummah (QS Ali Imran [3]: 110). Menjadi generasi ulul albab (QS Ali Imran [3]: 190-191) dan pandai membaca tanda-tanda zaman (QS Iqra [96]: 1-5).

Islam juga mengajarkan umatnya agar menjadi khalifah di muka bumi (QS al-Baqarah [2]: 30 dan Hud: 60), menjadi pelaku perubahan (QS al-Ahzab: 21), menjadi kelompok yang sadar akan masa depan (QS al-Hasyr: 18). Pendek kata, Islam mengajarkan umatnya hidup jaya di dunia dan bahagia di akhirat.

Nabi Muhammad SAW mengisyaratkan, pada setiap pergantian abad, lahir para mujadid di muka bumi yang memperbaiki agamanya. Nabi dan kaum Muslimin yang dipimpinnya bahkan hadir untuk takhrij min al-zhulumat ila al-nur, mengeluarkan umat manusia dari kegelapan menuju pencerahan.

Nabi akhir zaman itu bahkan mengubah Yatsrib yang semula komunal pedesaan menjadi pusat peradaban yang cerah dan mencerahkan, al-Madinah al-Munawwarah. Dari Madinah itulah, kemudian Islam menguasai dunia dan melahirkan era kejayaan berabad-abad lamanya ketika bangsa-bangsa lain tertidur lelap pada abad kegelapan.

Jihad pemimpin
Kemajuan merupakan keniscayaan bagi umat dan bangsa ini. Meraih kemajuan merupakan jalan jihad yang melintasi. Berlomba dengan bangsa-bangsa lain harus menjadi etos fastabiq al-khayrat.

Di sinilah keniscayaan para tokoh atau pemimpin umat yang sesungguhnya, yakni menjadi lokomotif jihad meraih kenggulan dan kemajuan. Menjadi penggerak pencerahan yang membebaskan, memberdayakan, dan memajukan kehidupan. Bukan sebaliknya, menjadi pemimpin umat yang membelenggu, memperdaya, dan membodohi umat demi mengawetkan kemapanan dirinya.

Umat Islam di negeri ini banyak yang masih rentan secara ekonomi. Mereka berhadapan dengan berbagai tekanan hidup yang sangat berat. Apa yang dapat diperbuat jika umat masih dhuafa-mustadh’afin? Kondisi umat yang ringkih cenderung yadus-sufla (tangan di bawah, penerima) ketimbang yadul-'ala (tangan di atas, pemberi).

Lebih banyak menjadi objek ketimbang subjek. Umat yang lemah tentu tidak akan menjadi pilar peradaban Islam yang berkemajuan. Jangankan untuk menjadi rahmatan lil-‘alamin, bahkan untuk mengurusi dirinya pun tertatih-tatih.

Para tokoh Islam perlu siuman secara berjamaah atas kenyataan hidup umat yang rentan dan ringkih itu. Seraya berpikir dan bekerja keras bagaimana membebaskan, memberdayakan, dan memajukan kehidupan mereka menuju kondisi yang berkeunggulan.

Menjadikan umat mencapai derajat kehidupan yang maju, bersatu, adil, makmur, bermartabat, dan berdaulat di hadapan umat dan bangsa lain. Itulah jihad pencerahan yang berada di pundak para tokoh Islam lintas gerakan di negeri ini. Baik jihad bi al-fikri maupun jihad bi al-fi'li secara total.

Pemimpin umat Islam saat ini niscaya agar progresif dan membumi, plus bekhidmat sepenuh hati. Antarpemimpin umat harus tasamuh dan tanawu’ seraya saling mendekat dan bergandengan tangan setulus hati.

Cerahkan umat dengan pikiran-pikiran jernih yang mencerdaskan kehidupan dan tegaknya akhlak mulia. “Para pemimpin perlu memudakan pemikiran dan mengembangkan Islam progresif,” kata Sukarno. “Jadilah pemimpin umat meneladani Nabi yang tidur di atas alas tikar, tetapi jelajahnya mengguncang tahta Kisra,” tulis Iqbal.

Maka, sungguh ironis manakala masih dijumpai pemimpin umat alergi pikiran-pikiran maju dan tidak membumi pada realitas kehidupan. Apabila mereka lebih banyak bicara ketimbang bekerja. Ketika bargairah tinggi dalam mobilitas masing-masing tanpa menyatukan pikiran dan langkah kolektif yang sinergis.

Para pemimpin politiknya lebih sibuk mengurus diri ketimbang melayani umat. Tatkala para ulamanya terus memproduksi fatwa, pendapat, dan pandangan yang kontraproduktif serta mengandung antmosfir saling menyesatkan.

Apalagi, kalau para tokoh umat itu saling berseberangan dan menunjukkan gestur permusuhan diam-diam. Hasil akhirnya mudah ditebak bahwa korbannya ialah umat. Umat Islam akan tetap hidup tertinggal di zona dhuafa-mustadhafin.


Dr. H. Haedar Nashir, M.Si

sumber: republika online

diambil dari www.sangpencerah.com

Kamis, 07 November 2013

“Padahal segolongan dari mereka (Yahudi) mendengar firman Allah, lalu mereka mengubahnya setelah mereka memahaminya, sedang mereka mengetahui.” (Q.S. Al Baqarah : 75)
Keyakinan umat Islam bahwa Alkitab (Bible) kitab suci umat kristiani telah dipalsukan, bukanlah tuduhan tanpa dasar. Karena hal tersebut dapat dibuktikan baik dalam Al Qur’an maupun Bible itu sendiri. Sebagai contoh, di dalam Al Qur’an, kata “yuharrifuunahu” pada ayat di atas berasal dari kata “tahrif”, maksudnya adalah mereka (Yahudi) telah mengubahnya dengan melakukan penambahan dan pengurangan lafazh di dalam Taurat, atau menggantikan bagian-bagian tertentu dengan yang lain sehingga sesuai dengan selera dan hawa nafsu mereka.
Tahrif  terhadap kitab suci adalah tindakan yang sangat berbahaya, karena bisa merubah status hukum dari halal menjadi haram, dan sebaliknya.
Karena sedemikian besar bahaya tahrif terhadap kitab suci, maka Allah melaknat dan mengancam pelakunya dengan siksaan yang maha dahsyat,
“Maka kecelakaan yang besar bagi orang-orang yang menulis Alkitab dengan tangan-tangan mereka sendiri, kemudian mereka mengatakan ini berasal dari Allah untuk mendapatkan keuntungan yang sedikit, Maka kecelakaan yang besar bagi mereka akibat tulisan tangan mereka, dan kecelakaan yang besar bagi mereka akibat perbuatan mereka.” (Q.S. Al Baqarah : 79)
Ancaman dengan menggunakan tiga kalimat “waylun” ini membuat bulu kudu merinding. Menurut Al-Mu’jam al-Wasith, makna umum “waylun” adalah solusi paling buruk. Sedangkan menurut tafsir Al-Wajiz li-Kitabillahil-‘Aziz, “waylun” adalah azab yang keras, kecelakaan besar, kutukan, kesengsaraan.
Jadi, keyakinan umat Islam bahwa kitab-kitab terdahulu telah dipalsukan adalah akidah yang benar sesuai Al Qur’an dan Sunnah. Karenanya, Rasulullah Saw mengajarkan agar umat Islam bersikap kritis terhadap apapun yang disampaikan oleh Ahli Kitab,
“Apabila ada ahli kitab yang berkata kepadamu, maka janganlah kamu benarkan dan jangan pula kamu dustakan. Katakanlah: “kami beriman kepada apa yang diturunkan kepada kami (Al Qur’an) dan apa yang diturunkan kepada orang-orang sebelum kami dari Tuhan (Rabb) kami.” Apabila yang disampaikan itu haq (benar), janganlah kamu dustakan. Jika batil janganlah kamu benarkan.” (H.R. Abu Daud)
Standar untuk menguji kebenaran kitab suci Yahudi dan Nasrani adalah Al Qur’an. Jika sesuai dengan Al Qur’an, berarti ia benar–Kristen tetapi kita tidak bisa memandangnya sebagai firman Allah. Sebaliknya, bila bertentangan berarti batil, dan kita wajib menolak kebatilan itu.
Meski dalam Alkitab (Bible), kitab suci kristiani terdapat empat Injil, yaitu Injil Matius, Injil Markus, Injil Lukas dan Injil Yohanes, namun umat Islam tidak boleh mengimani dan mengamini empat Injil Kristen ini sebagai wahyu Allah seratus persen. Karena keempat Injil ini sangat diragukan kebenarannya.
Menurut hasil penelitian 72 profesor dan pakar Bible kaliber internasional yang tergabung dalam “The Jesus Seminar,” disimpulkan bahwa 82 persen kalimat yang redaksinya diucapkan Yesus di dalam kitab-kitab Injil, sebenarnya tidak pernah disabdakan oleh Yesus, “Eighty-two percent of  the words ascribed to Jesus in the Gospels were not actually spoken by him.” (Robert W Funk, Roy W Hoover, and The Jesus Seminar, The Five Gospels, What did Jesus Really Say?, hal. 5).
Para profesor dan ilmuwan Kristen itu begitu giat meneliti Bible karena haus dan lapar akan kebenaran.
Teolog Kristen pun Mengakui Kepalsuan Bibel
Seorang penginjil yang menamakan dirinya Umar Tariqas, menulis dalam bukunya “Ismael Saudaraku” menuduh umat Islam tidak memahami kandungan Al Qur’an karena meyakini kepalsuan Bible,
“Namun bila mereka itu Muslim, maka sulit untuk kita mencari dasar tuduhannya. Mungkin orang semacam ini kurang memahami ajaran Qur’an, atau terlanjur membutakan hatinya sendiri. Sekali Muslim menuding keabsahan Alkitab, mereka langsung masuk ke dalam dilema yang tidak terselesaikan” (hlm. 6).
Itu hanya retorika penginjil untuk menutupi kelemahan kitab sucinya. Keyakinan umat Islam bahwa kitab-kitab terdahulu sudah tidak asli, adalah akidah yang benar sesuai Al Qur’an dan Sunnah. Justru mati-matian membela Bible sebagai kitab suci yang otentik dan asli tanpa ada pemalsuan sedikit pun, adalah keyakinan yang menyalahi Alkitab (Bible) sendiri.
Pasalnya, dalam terbitan Bible sendiri diakui dan ditulis jelas bahwa banyak ayat-ayat yang benar-benar palsu. Misalnya, dalam Injil Markus 9 ayat 44 dan 46 tertulis:
“44 [di tempat itu ulatnya tidak akan mati, dan apinya tidak akan padam.] 45 Dan jika kakimu menyesatkan engkau, penggallah, karena lebih baik engkau masuk ke dalam hidup dengan timpang, dari pada dengan utuh kedua kakimu dicampakkan ke dalam neraka; 46 [di tempat itu ulatnya tidak akan mati, dan apinya tidak akan padam.]”
Tanda kurung dalam ayat 44 dan 46 itu bukan salah ketik maupun salah cetak, tapi menyimpan misteri teologis.
Dalam Bible bahasa Melayu tahun 1929, kedua ayat yang divonis palsu oleh lembaga Katolik itu sama sekali tidak dicantumkan. Karenanya, dalam susunan ayat Bible kuno itu terlihat loncat-loncat, tidak memuat ayat 44 dan 46 (hlm 116). Tak ada penjelasan apapun mengapa ayatnya tidak urut dari ayat 43 loncat ke ayat 45, lalu dari ayat 45 loncat lagi ke 47.
Lembaga Biblika Indonesia (LBI) dalam “Kitab Suci Perjanjian Baru” terbitan Arnoldus Ende tahun 1977/1978, tanpa ragu-ragu memvonis keduanya sebagai ayat palsu dengan catatan kaki sebagai berikut:
“44, 46. Kedua ayat ini tidak asli dan hanya mengulang ayat 48.” (hlm 113)
Banyaknya kerancuan dalam Alkitab (Bible) inilah yang mendorong para Theolog tanpa malu-malu mereka mengakui dengan jujur tentang kelemahan otentitas Kitab Sucinya. Pengakuan itupun tertulis dengan jelas hitam di atas putih dalam buku-buku mereka, sebagai berikut:
Dr. G.C Van Niftrik dan Dr. B.J Bolland:
“Kita tidak usah malu-malu, bahwa terdapat berbagai kekhilafan di dalam Alkitab; kekhilafan-kekhilafan tentang angka-angka perhitungan; tahun dan fakta. Dan tak perlu kita pertanggungjawabkan kekhilafan-kekhilafan itu pada caranya, isi Alkitab telah disampaikan kepada kita, sehingga kita akan dapat berkata: “Dalam naskah aslinya tentu tidak terdapat kesalahan-kesalahan, tetapi kekhilafan itu barulah kemudian terjadi di dalam turunan naskah itu. Isi Alkitab juga dalam bentuknya yang asli, telah datang kepada kita dengan perantaraan manusia.” (Dogmatika Masa Kini, BPK Jakarta, 1967, hal 298)
Dr. R. Soedarmo:
“Dengan pandangan bahwa Kitab Suci hanya catatan saja dari orang, maka diakui juga bahwa di dalam Kitab Suci mungkin sekali ada kesalahan. Oleh karena itu Kitab Suci mungkin sekali ada kesalahan. Oleh karena itu Kitab Suci dengan bentuk sekarang masih dapat diperbaiki.” (Ikhtisar Dogamtika, BPK Jakarta, 1965 hal. 47)
Pdt. Dr. K. Riedel (Pakar Tafsir Alkitab):
“Tiap-tiap pembaca Kitab-Kitab Injil memang mengetahui, bahwa isi suatu Kitab Injil tidak selalu cocok dengan Kitab Injil yang lain.” (Tafsiran Injil Mathius, BPK Jakarta, 1963, hal.18)
Bart D. Ehrman (Pakar Sejarah Perjanjian Baru):
“Dengan kata lain, hal itu adalah salah satu bagian yang diajukan guna membuktikan bahwa Alkitab sama sekali tidak bebas salah, tetapi berisi kesalahan-kesalahan.” (Misquoting Jesus, PT. Gramedia Pustaka Utama, 2006,  hal. xxii)
Semakin jelas bahwa kepalsuan kitab terdahulu adalah keyakinan yang faktual, ilmiah dan sesuai dengan nash Ilahi. Sebaliknya, meyakini otentisitas Bible adalah halusinasi yang sangat tidak Alkitabiah!! [red/abi]
#Majalah Tabligh Edisi Rajab – Sya`ban 1433

Senin, 04 November 2013

Jakarta, 27-28 Oktober 1928
Selama 24 jam penuh polisi Belanda memantau setiap pergerakan para pemuda di rumah itu. Rumah yang kemudian dikenal sebagai Gedung Kramat 106 itu sebenarnya tempat kos mahasiswa. Di dalam rumah, Soegondo memimpin rapat pemuda yang datang dari sejumlah daerah. Ketika terdengar kata “merdeka”, polisi masuk, marah-marah. Namun, berkat lobi Soegondo kemarahan polisi mereda.

Namun, ketika datang permintaan pembubaran dari polisi agar acara itu bubar Soegondo justru menampik. Ia berdiri menghadapi segala kemungkinan yang terjadi. Acara tetap berjalan dan sejarah mencatat bahwa acara itu menjadi salah satu tonggak penting sejarah Indonesia yang melahirkan Ikrar Pemuda atau kita kenal kini sebagai Sumpah Pemuda.

Sumpah Pemuda adalah cerita tentang keberanian para pemuda. Pada 27-28 Oktober 1928 itu belum ada negara yang bernama Indonesia, status negeri ini tanah jajahan Belanda. Sudah banyak contoh tindakan keras pemerintah Belanda terhadap para perongrong kekuasaan mereka. Apakah Soegondo, Muhammad Yamin, Tabrani, dan kawan-kawan gentar atau mundur karena ancaman Belanda? Tidak, mereka malah mengumandangkan ikrar pemuda.
Bayangkan, selama tujuh belas tahun para pemuda itu berjuang dan mengajak anak bangsa lain untuk merdeka. Sehari-hari mereka bergelut dengan ide dan wawasan soal kemerdekaan di bawah ancaman Pemerintahan Belanda yang nyata. Dari sini, kita bisa lihat kedahsyatan daya juang mereka.
Perjuangan mereka menular ke khalayak luas. Rata-rata mereka adalah para pemuda yang lahir dari keluarga berada. Soegondo Djojopoespito, ketua Kongres Pemuda II, Mohammad Tabrani Soerjowitjitro, ketua Kongres Pemuda I lahir dari keluarga berada. Artinya apa? Bila mereka menginginkan kemakmuran pribadi, tentu mereka tinggal diam dan belajar saja. Tapi mereka berani mengambil jalan sulit. Dan lihat efeknya, kemerdekaan itu hadir berkat jasa mereka. Ketulusan mereka menular..
Syukur dan Ikhtiar 
Indonesia sudah merdeka, lalu apa yang harus kita lakukan? Republik ini didirikan bukan sekadar untuk menggulung kolonialisme, tapi juga untuk menggelar keadilan sosial bagi seluruh rakyatnya. Republik hadir untuk melindungi, mensejahterakan, dan mencerdaskan rakyatnya serta memungkinkan berperan dalam tataran dunia. Isi pembukaan UUD 1945 adalah janji.
Janji adalah kesediaan, kesanggupan untuk berbuat, untuk memenuhi dan untuk mencapai. Janji adalah utang yang harus kita lunasi. Janji memberikan komponen kepastian. Republik ini dibangun dengan ikatan janji!
Sumpah pemuda adalah bentuk optimisme kaum muda. Optimisme itu menular dan bisa disebarkan. Saat syarat pesimis terhampar di hadapan mata. Sebagian besar rakyat masih buta huruf, hidup dalam kemiskinan, keterbelakangan akses dan marjinalisasi. Penggerak zaman tidak peduli, tidak menyerah pada zaman. Optimisme mengubah ketakutan menjadi energi positif.
Kita perlu memperhatikan kemajuan dan keberhasilan. Keseimbangan dan objektivitas bisa mendorong kita memiliki optimisme. Optimis terhadap bangsa tidaklah sama dengan mendukung pemerintah. Sikap kritis justru harus dipertahankan, tapi sikap pesimistis harus dihapus dan jangan takut untuk optimistis.
Coba tengok masa lalu. Ketika republik ini didirikan, para pemimpin memiliki seluruh persyaratan untuk pesimistis. Bandingkan, hari ini kita memiliki banyak persyaratan untuk optimis. Tapi, kita sering memilih membicarakan kegagalan, bukan keberhasilan.
Kita harus merombak suasana itu. Jangan jadi generasi yang kritis-pesimis, jadilah generasi yang kritis-optimis: generasi yang tidak hanya berani mengkritik, tapi berani juga memberikan jalan keluar.
Memajukan Republik 
Dalam 10-20 tahun lagi pesaing kita adalah anak-anak dari luar negeri dan orang asing yang datang ke Indonesia untuk mencari profesi bonafide. Maka penting bagi pemuda mampu berkibar di tingkat global namun tak melepaskan kakinya di akar rumput. Belakangan ini kita lihat banyak anak bangsa yang berkiprah di tingkat internasional tapi tak menyambung dengan masyarakat bawah. Sebaliknya, mereka yang berjuang di tingkat bawah tak bisa menyambung dengan masyarakat dunia di tingkat global sehingga akhirnya perjuangan mereka berhenti pada titik lokal. Padahal, bukan tidak mungkin perjuangan mereka itu bisa sangat menginspirasi masyarakat banyak di belahan dunia lain.
Kita bisa belajar soal pemahaman akar rumput dan kompetensi global ini dari kisah Sumpah Pemuda. Ini adalah bukti keberhasilan pendidikan. Soegondo, Yamin, Tabrani dan lainnya memiliki kesadaran soal kemerdekaan berkat pendidikan.
Sekali lagi ini seharusnya menjadi pelajaran bagi kita, kalau kita ingin maju menjadi bangsa yang besar, jangan fokus pada material. Jangan fokus pada sumber daya alam, tapi fokus pada manusia Indonesia. Kunci memajukan Indonesia, pada manusianya.
Coba lihat bangsa mana di dunia, yang rakyatnya sebesar ini dan setersebar ini, yang bisa memutarbalikan buta huruf total menjadi melek huruf total? Itu adalah pencapaian luar biasa. Itu adalah prestasi kolektif seluruh bangsa, bukan prestasi satu-dua pemerintahan.
Melek huruf adalah awal keberhasilan. Akses pada pendidikan berkualitas untuk setiap warga Indonesia adalah janji berikutnya yang harus dilunasi. Anak-anak yang terkesampingkan secara sistematis, lalu tidak bisa mengakses pendidikan memadai, maka ketika berusia 30-an jumlahnya akan meledak. Kita harus mencegah ledakan sosial itu sejak dini, tentunya dengan keadilan akses pendidikan.
Anak muda selalu terpacu dengan kata kepemimpinan, tapi mestinya juga menyebarkan nilai kesejahteraan. Hal ini harus dilakukan oleh anak muda secara simultan. Pada titik inilah kita lihat keampuhan keputusan ketiga sumpah pemuda, yaitu menjunjung bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan. Bahasa Indonesia adalah modal utama untuk merengkuh kemajuan di masa depan. Indonesia ini sudah punya modal persatuan di banyak bidang. Tugas itu harus diambil alih oleh pemuda.
Melihat potensi anak muda ini, pendekatan yang lebih tepat adalah kepemimpinan yang hadir untuk merangsang semua orang untuk mau menyelesaikan masalah, kepemimpinan yang menggerakkan. Pemimpin bisa menggerakan jika dia dipercaya.
Model kepimpinan yang bertumpukan kepada kepercayaan itu yang coba kami terapkan di Gerakan Indonesia Mengajar. Gerakan ini bisa bergerak karena adanya kepercayaan kolektif. Ini tidak berencana menyelesaikan seluruh masalah pendidikan di Indonesia, gerakan ini berencana mengajak semua orang turun tangan menyelesaikan masalah pendidikan di Indonesia.

Selasa, 02 Juli 2013

Akhirnya kami kembali menulis, setelah beberapa bulan vakum dari dunia tulis-menulis. Selama ini kami cukup menjadi pendengar/penyimak/pembaca/penonton melihat realita yang sedang terjadi, dengan terkadang memberikan sedikit komentar. Kemudian kami mulai bangkit dari vakum akibat resah melihat perkembangan terakhir mengenai masalah Wujudul Hilal yang digunakan Muhammadiyah dalam menentukan awal Ramadhan. Banyak tulisan yang mencoba menghakimi Muhammadiyah karena mengumumkan awal ramadhan dan syawal terlebih dahulu (metode hisab,red). Mulai dari tulisan Pak Thomas Djamaluddin yang mengatakan kalau metode yang digunakan Muhammadiyah itu sudah usang dan saintis. Sampai pada fanspage Facebook yang menggunakan nama Islam, tetapi isinya lebih menghakimi Muhammadiyah sebagai organisasi yang utuh.

Tentunya hal tersebut bukanlah suatu tindakan yang fair, karena masalah ini sebenarnya masalah yang setiap tahunnya ada dan dengan tema/materi yang sama. Yang inti dari masalah ini adalah satu yaitu menghujat Muhammadiyah. Hujatan-hujatan itu berupa tindakan Muhammadiyah yang memecah belah umat, tidak mau bersatu, ataupun memiliki mazhab tersendiri. Padahal Muhammadiyah juga memiliki dasar yang kuat atas tindakan atau metode yang digunakan.

Kami akan memaparkan argumentasi Hisab Wujudul Hilal Muhammadiyah, yang sebenarnnya sudah digunakan selama bertahun-tahun. Bahkan kalender hijriah, peristiwa gerhana, maupun jadwal sholat itu semua merupakan produk dari metode hisab ini. Ini argumentasi yang diambil dari tulisan Mas Wawan Gunawan Abdul Wahib (www.sangpencerah.com) :

Pendahuluan
Satu Islam ragam pemahaman. Maknanya, meskipun satu keyakinan agama yang sama kaum Muslimin bisa mengekspresikan Islam yang warna-warni karena cara memahami agamanya yang tidak sama dengan menjunjung tinggi nilai-nilai ukhuwah islamiyah. Itulah barangkali yang dapat mentalitemalikan Islam dan kaum Muslimin seantero dunia tak terkecuali di tanah air.   Salah satu fakta keragaman yang hingga saat ini diperbincangkan antar sesama ummat Islam adalah persoalan rukyat dan hisab. Menariknya perbedaan ini dirujukan oleh masing-masing penganutnya pada satu hadis yang sama. Hadis dimaksud adalah:
عن ابن عمر رضي الله عنهما قال:قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: صوموا لرؤيته و أفطروا لرؤيته فاٍن غم عليكم فاقدروا له (رواه البخاري و مسلم واللفظ للبخاري)
Artinya:”Berpuasalah kamu sekalian karena melihat awal bulan dan beridul fithrilah kamu sekalian karena melihat awla bulan ketika awal bulan terhalang pandangan maka lakukanlah estimasi” (Hadis Riwayat al-Bukhari dan Muslim). 
Tentang makna rukyat
Satu kata penting yang termuat dalam hadis Nabi saw di atas yang menjadi sumber terjadinya perbedaan pendapat adalah kata liru’yatih.  Kata ru’yat atau rukyat adalah ism al-mashdar (gerund) dari akar kata kerja ra-a yaraa yang makna harfiyahnya adalah “melihat”.  Karena itulah misalnya Mu’jam Lughat al-Fuqaha (Qal’ah ji, 1985:298) mengartikan rukyat sebagai “al-ibshar” melihat dengan mata. Dengan bingkai itu penyusun Mu’jam ini menurunkan misal “wa minhu ru’yatu hilali ramadlana”, antara lain melihat awal bulan (hilal) ramadlan. 
Sementara dengan bantuan al-mu’jam al-mufahras li-alfazh al-Quran (Abdul Baqi:1984) terbaca bahwa ungkapan kata ra-a yaraa digunakan al-Qur’an untuk dua pengertian sekaligus. Arti yang pertama melihat suatu benda secara visual sedangkan yang kedua melihat sesuatu dalam fikiran atau hati. Untuk makna pertama  berjumlah 26 % sedangkan untuk makna kedua lebih dari 74%.  Untuk misal pertama, antara lain, al-Quran menyebutkannya dalam Surah al-An’am (6) ayat 78 saat menceritakan pengalaman religiusitas Ibrahim a.s.: Falamaa ra-a sy-syamsa baazighah qaalaa haadzaa rabbii hadzaa akbar, tatkala Ibrahim melihat matahari itu terbit lalu ia berucap “inilah Tuhan-ku ini lebih besar”. Sedangkan untuk makna kedua al-Qur’an meyebutkannya, antra lain, dalam Surah al-Fiil (105) ayat 1: Alam tara kayfa fa’ala rabbuka bi ash-haabil fiil? Tidakkah kamu melihat bagaimana Tuhanmu memperlakukan pasukan gajah? Kata kerja “melihat”pada ayat pertama tidak sama dengan “melihat” pada ayat kedua. Yang pertama kata melihat ditujukan untuk sesuatu yang tampak dan terindera oleh mata yaitu matahari sedangkan yang kedua kata melihat ditujukan untuk sesuatu yang tidak tampak karena peristiwa penyerangan Pasukan Gajah yang dipimpin Abrahah dalam upaya menghancurkan Ka’bah itu terjadi jauh sebelum Nabi saw dilahirkan, akan tetapi Allah menyuruh Nabi saw. untuk “melihat” atau memperhatikan peristiwa itu tentu saja kali ini bukan dengan mata tetapi dengan hati dan fikiran Nabi saw.  
Sealur dengan kandungan al-Quran di atas, Ibnu Manzhur al-Mashri dalam karya monumentalnya, Lisan al-Arab (XIV:291), mengutip pernyataan Ibnu Sayyidih yang menegaskan bahwa  kata rukyat itu adalah “an-nadharu bil’ayni wal-qalbi” melihat sesuatu dengan mata dan hati (fikiran).  Dengan uraian makna rukyat sedemikian itu maka terjemahan yang lengkap untuk hadis di atas menjadi “berpuasalah kamu sekalian karena melihat atau menghitung awal bulan dan beridul fithri lah kamu sekalian karena telah melihat atau menghitung awal bulan jika awal bulan terhalang pandangan maka lakukanlah estimasi”.
Memilah antara pesan inti dan pesan sekunder
Abu Ishaq asy-Syathibi dalam karya magnum opusnya al-Muwafaqaat fi Ushul asy-Syari’ah (II:176-183) menegaskan bahwa ketika Syari’ menyampaikan pesan melalui firman Allah dan sabda Rasul Nya, seorang pembaca pesan itu mesti memilah dan memastikan dengan seksama mana yang menjadi pesan inti (al-maqshad al-ashliy) dan mana yang sekedar pesan ikutannya (al-maqshad at-taba’iy). Misalnya, Nabi saw bersabda “law laa an asyuqqa ‘alaa ummatii la amartuhum bis-siwaaki ‘inda kulli shalaatin”. Jika sabda tersebut dibaca dengan harfiyah ia menyebutkan tuntunan menggunakan siwak saat berwudlu. Jika itu pesan yang ditarik (isthinbat) dari hadis tersebut menyisakan pertanyaan “Bagaimana dengan penggunaan sikat gigi dan odol? Dengan pembacaan ala Syathibiyan penggunaan siwak bukanlah pesan inti sabda Nabi di atas. Sejatinya Nabi saw sedang mengajarkan tuntunan bahwa ketika seorang Muslim berwudlu saat hendak menunaikan shalat ia mesti mengupayakan untuk bersih mulut dan gigi. Untuk tujuan itu Nabi menyebutkan satu alat atau sarana yang tersedia pada zamannya yaitu perkakas yang bernama siwak. Dengan demikian penggunaan sikat gigi dan odol pada saat ini sama martabatnya dengan penggunaan siwak pada saat Nabi saw menyampaikan hadis siwak itu. Bahkan karena pertimbangan-pertimbangan tertentu kaum Muslimin saat ini lebih memilih menggunakan sikat gigi dan odol daripada siwak.
Demikianlah terhadap hadis “shuumuu liru’yatihi dan wa afthiruu li ru’yatih..” pun dapat dilakukan cara pembacaan yang sama. Dengan hadis di atas sejatinya Nabi saw menyebutkan kata rukyat bukan sebagai pesan inti. Pesan inti yang disampaikan Nabi adalah memastikan telah terjadi bulan baru untuk melakukan ibadah puasa dan idul fithri. Dengan demikian hadis “laa tashuumuu hattaa taraul hilaalaa walaa tufthiruu hatta tarawhu…” dapat dimaknai menjadi “janganlah kamu sekalian berpuasa hingga telah memastikan masuk awal bulan baru. Janganlah kamu sekalian beridul fithri hingga telah memastikanawal bulan baru”. Bagaimana bulan baru itu dipastikan? Pada zaman Nabi saw bulan baru itu dipastikan dengan cara merukyatnya atau melihatnya secara visual karena itulah cara yang paling dimungkinkan pada saat itu. Pilihan terhadap rukyat untuk memastikan terjadinya awal bulan karena itulah cara yang tersedia saat itu mengingat kondisi umumnya kaum Muslimin yang belum bertradisi membaca dan berhitung sebagaimana terungkap dari hadis Nabi saw “innaa ummatun ummiyyatun laa naktubu wa laa nahsibu…”.
Memilih hisab atas rukyat
Sebagaimana halnya odol dan sikat gigi yang semartabat dengan siwak sebagai wahana membersihkan mulut dan gigi demikian halnya dalam memastikan bulan baru jika ditemukan cara selain rukyat maka cara tersebut sama martabatnya dengan rukyat. Cara ini belum menjadi pengetahuan yang massif pada masa Nabi (laa nahsibu) tetapi sudah diisyaratkan al-Quran dengan kata “husbaan” dalam Surah ar-Rahman (55) ayat 5 dan kata “wal-hisab” dalam Yunus (10) ayat 5 sebagai cara yang akan digunakan oleh kaum Muslimin sebagai wahana pemasti terjadinya awal bulan dan lain-lain. Sabda Nabi pasti adalah wahyu Allah karena itu ketika Nabi bersabda liru’yatihi tentu tidak memisahkannya dengan dua ayat yang disebutkan diatas. Ini sekaligus membenarkan apa yang dikatakan Muhammad ibn Idris asy-Syafi’ii bahwa Fal-ashlu Qur’aanun wa sunnatun, sumber hukum Islam itu al-Quran dan as-sunnah dalam satu kesatuan dan sejalan dengan apa yang dikatakan asy-Syathibi bahwa antara al-Quran dan as-Sunnah terjadi relasi yang saling memerlukan. Setiap keterangan dalam al-Quran dijelaskan as-Sunnah demikian juga sebaliknya. Jika bingkai ini dikembalikan pada konteks memposisikan antara hisab dan rukyat maka sinergi nash al-Quran dan as-Sunnah itu mengakui penggunaan rukyat dan hisab secara sekaligus dengan lebih memprioritaskan penggunaan hisab. 
Mengapa hisab diprioritaskan al-Quran dan as-Sunnah daripada rukyat? Hemat penulis kata menghitung (hisab dan husban) yang disebut al-Qur’an mengindikasikan kepastian dan mengusakahan segala sesuatu secara terukur. Ini beda dengan kata rukyat yang sejak awal mengisyaratkan potensi kelemahan. Seorang bisa mengklaim melihat hilal sementara pada saat yang sama  di tempat yang sama orang lain tidak melihatnya. Dalam hal ini Nabi saw mengajarkan cukup dilakukan sumpah kepada orang yang mengaku melihat hilal itu, Kenyataan di lapangan tidak seserhana itu. Berulangkali disini terjadi ketika diinginkan hilal itu terlihat oleh para pemantau hilal meskipun musthail untuk melihatnya maka dari sekian puluh pemantau itu ada beberapa yang mengkalim melihatnya meskipun menurut standar yang wajar sesungguhnya sukar untuk merukyat hilal dalam batas 2,5 derajat. Sebaliknya ketika dikehendaki hilal itu tidak terlihat manakala ada satu dua orang yang mengaku melihat pengakuan ini tidak akan dihitung sama sekali.
Memilih hisab wujudul hilal daripada imkanurrukyat
Ada dua metode hisab yang sering dipertentangkan pertama imkanurrukyat dan kedua wujudul hilal. Dari dua metode itu wujudul hilal yang dipilih Persyarikatan. Pilihan Persyarikatan pada hisab wujudul hilal sejalan dengan prinsip keilmuan yang dikemukakan oleh Filsuf bernama William Ockham Razor (1280-1347) yang menegaskan manakala untuk memastikan sesuatu ditemukan beberapa cara pastikanlah dengan satu cara yang lebih mudah dan memberikan kepastian segera. Metode wujudul hilal memenuhi prinsip-prinsip keilmuan yang objektif, murah dan mudah dan memberikan kepastian. Dikatakan objektif karena nilai-nilai objektivitas wujudul hilal betul-betul jauh dari prakiraan yang sulit untuk direalisasikan. Ini berbeda dengan metode imkanuurrukyat yang mengasumsikan angka derajat tertentu yang di lapangan jarang sekali teraplikasikan. Ironi pada imkaanurukyat adalah metode hisab yang semestinya memberikan kepastian menjadi sulit untuk diaplkasikan karena adanya syarat derajat tertentu yang tidak dapat dikembalikan asal-usulnya pada andasan syar’I dan kelimuan. Dikatakan murah dan mudah karena dengan perangkat yang sangat sederhana seseorang dapat mempraktekkan metode wujudul hilal di manapun kapanpun tanpa memerlukan biaya sidang istbat yang miliaran rupiah itu. Dikatakan memberikan kepastian karena wujudul hilal dapat segera memastikan suatu peristiwa itu terjadi dalam waktu yang segera jauh sebelum peristiwa itu terjadi sehingga segala sesuatu yang dihajatkan dapat dipersiapakan jauh sebelum hari H nya. Analogi wujudul hilal sama dengan lampu lalulintas yang digital itu. Tatkala para pengguna kendaraan berhenti menunggu berjalannya waktu tertentu yang diprogram dan saat angka menunjukkan angka 0 para pengendara pun bersiap-siap melajukan kendaraannya tanpa menunggu angka digital di lampu menunjuk angka 2, 3,4, 5 dan seterusnya.
Akhirul kalam
Mengngat konsistensi hasil perhitungan hisab wujudul hilal sebagaimana terbuktikan pada tanggal 14 malam bulan purnama syawal 1432, patut kiranya dipertanyakan penggunaan kaidah hukmul haakim ilzaamum wa yarfa’ul khilaafPertama, konsistensi aplikasi kaedah itu perlu benar-benar diawasi terus menerus. Kedua, dan ini lebih penting, jika diasumsikan putusan pemerintah dalam sidang istbat itu dikatakan menghapuskan perbedaan dan mengikat untuk diikuti oleh segenap warga kaum Muslimin maka itu meniscayakan beberapa syarat dipenuhi terlebih dahulu oleh pemerintah. Syarat tersebut yang terutama adalahseluruh keragaman yang dianut oleh berbagai ormas mesti benar-benar disantuni dan diwadahi oleh pemerintah sehingga dirasakan adil untuk semuanya. Jika tidak dapat dipenuhi maka kaidah yang digunakan sebaiknya adalah tasharuful imam ‘alarra’iyyati manuuthun bilmashlahati. Manakala  perbedaan itu sukar untuk disatukan dalam satu kriteria bersama maka diyakini akan menjadi kemaslahatan bagi semua pihak manakala Pemerintah menampilkan diri sebagai pengayom perbedaan itu dengan mengedepankan nilai-nilai ukhuwah islamiyah.
Wallahu A’lam bish-Shawab.


Demikian tadi pemaparan dan penjelasan yang lumayan panjang lebar dari kami. Kami disini hanya memberikan sedikit pencerahan dan pendapat kami mengenai apa yaang kami pilih dan apa yang kami laksanakan. Jadi sangat salah jika ada yang mengatakan bahwa warga Muhammadiyah itu taklid kepada pemimpinnya. Sedikit penjelasan ini harapannya bukan untuk memperbesar perdebatan dan perselisihan, tetapi membuat kita semua open mind dan lebih bijak menyikapi perbedaan.

Janganlah kita mudah terprovokasi dengan segala bentuk hujatan yang silih berganti menyerang Muhammadiyah. Itu merupakan bentuk perhatian dari penghujat untuk organisasi yang kita cintai ini. Sebagai gerakan keislaman, kami tidak anti dengan kritik. Hanya saja kami berharap dan menginginkan agar kritikan tersebut diajukan secara fair. Bukan untuk menjelek-jelekkan Muhammadiyah tetapi kritik yang membangun, agar Muhammadiyah senantiasa memperbaiki diri.

Fastabiqul Khairat
"Merah Jalan Kami"

Minggu, 16 Juni 2013

EraMuslim.comDi Cipete Jakarta Selatan. Di sebuah sekolah dasar di sana, seorang pria penjual gorengan bernama Udin (bukan nama asli) berjualan.
Lonceng turun main, kira-kira akan berbunyi sepuluh menit lagi. Ia tengah memotong beberapa singkong untuk digoreng. Singkong seperti yang kita tahu, berbentuk tabung dan berkerucut pada ujungnya.
Biasanya sebuah singkong akan dipotong lima bagian. 4 bagian digoreng untuk dijual, sementara bagian ujung atau pentilnya disisihkan untuk dibuang.
Hari itu, Udin menggoreng kira-kira 5 buah singkong, dan pentil singkong yang tersisa pun berjumlah 5 karenanya.
Lonceng istirahat berbunyi, para siswa pun berhamburan ke luar kelas untuk jajan dan istirahat. Seorang anak kurus sambil menggigit jari berdiri di ujung gerobak Udin. Anak ini tidak membeli gorengan seperti siswa lainnya, juga tidak berbicara sepatah katapun.
Naluri Udin berkata bahwa anak ini tidak punya uang untuk jajan. Hati kecil menyuruhnya agar 5 pentil singkong yang ada diberikan saja kepada anak itu. Maka diambillah beberapa pentil itu. Ia masukkan ke dalam adonan tepung, kemudian digorenglah. Setelah matang, Udin menaruhnya di atas kertas lalu disodorkannya kepada anak itu.
Si anak senang bukan main. Senyumnya mengembang. Udin turut bahagia melihatnya. Belakangan, Udin tahu bahwa anak tersebut adalah seorang yatim yang baru saja kehilangan bapak.
Kejadian pagi itu terus berulang. Udin memberikan beberapa pentil singkongnya kepada anak yatim itu.
Hari demi hari, bulan demi bulan, tahun demi tahun hingga anak itu lulus dari Sekolah Dasar. Udin tidak merasa berat, sebab apa yang ia berikan kepada anak yatim itu, tiada lain adalah barang yang tiada berharga bagi siapapun. Dalam pengalamannya berjualan, tidak ada seorang pun yang mencari pentil singkong untuk dibeli. Bahkan bila dijual sekalipun dalam jumlah banyak, pastilah tidak akan laku.
Udin tak berkeberatan memberikan pentil singkongnya kepada anak itu. Bahkan untuk setiap hari!
Allah Swt akan membalas kebaikan seorang hamba bila ia membantu saudaranya bahkan hingga 700 kali lipat!
Lebih dari 30 tahun berselang setelah anak yatim itu lulus. Saat itu, Udin masih mengerjakan rutinitasnya setiap hari; yaitu berjualan gorengan di sekolah dasar yang sama. Maka berhentilah sebuah mobil mewah nan mengkilap tepat di depan gerobak Udin.
Seorang pemuda tampan turun dari mobil. Ia mengenakan setelan dan dasi yang bermerk. Rambutnya di sisir rapi dan mengkilat ditimpa sinar matahari.
Melihat calon pembeli dengan mobil bagus, Udin sigap membuka pembicaraan, “Mau beli gorengan, Den…?!” Pemuda itu tersenyum dan berkata, “Masa akang lupa sama saya?” Pertanyaan itu membuat Udin berpikir singkat, namun ia tidak menemukan jawaban. Udin lalu bertanya polos, “Memangnya…, Aden ini siapa ya?” Masih tersenyum, pemuda itu mengatakan, “Saya ini adalah anak pentil singkong, Kang!” Mendengar itu, Udin berucap tasbih. Rasa gembira terbit di hatinya melihat kesuksesan anak ini. Anak pentil singkong yang dulu kerap berdiri di pinggir gerobaknya.
“Masya Allah…. sudah sukses sekarang ya, Den?!” Udin bertanya sekali lagi. “Alhamdulillah, Kang!” jawab si Aden.
Udin lalu menggamit lengan si Aden, diajaknya masuk ke balik gerobak. Udin menyorongkan sebuah kursi kecil untuk duduk. Maka duduklah pemuda itu, sementara Udin meneruskan pekerjaannya…. menggoreng singkong, tempe dan lain-lain.
Sambil Udin bekerja, pembicaraan mengenai kenangan lama terulang kembali. Keduanya merajut rasa syukur kepada Allah Swt Yang telah melimpahkan anugerah tiada terkira. Pembicaraan tersebut terus berlanjut hingga berujung pada sebuah kalimat yang diucapkan sang pemuda.
“Akang… saya ke sini mau berterima kasih!” kata si pemuda. “Atas apa, Den?!” jawab Udin. “Berterima kasih atas kebaikan kang Udin kepada saya. Dulu kalau gak dikasih pentil singkong sama Akang, saya gak bakal bisa belajar dengan tenang. Kalau belajar gak tenang, saya gak bakal pintar. Kalau gak pintar, saya gak bakal bisa lulus sekolah dan sukses seperti sekarang…. saya ke sini mau berterima kasih ke kang Udin!”. Kalimat yang baru diucapkan oleh pemuda begitu tersusun dan membanggakan hati Udin. Namun Udin masih berkelit sambil berujar, “Den… sudah gak usah dipikirkan. Apa yang saya kasih ke Aden berupa pentil singkong itu kan gak berharga! Ngapain pake terima kasih segala. Lagian, kalo saya jual gak bakal ada yang mau…!” Udin mencoba merendah dan menolak pamrih.
Pemuda masih mengejar dengan satu pertanyaan lagi, dan ini membuat Udin menjadi bergidik. “Akang…, saya dan istri berniat haji tahun ini. Saya ingin Kang Udin dan istri mau menemani kami. Mau kan, Kang?”
Gemuruh rasa terjadi di dada Udin. Tidak pernah terbayang baginya akan ada seorang hamba Allah yang mengajaknya untuk menunaikan rukun Islam kelima. Udin pun mengiyakan, dan pemuda itu pun pergi meninggalkan Udin.
Udin dan istrinya berangkat haji. Seluruh biaya dan uang jajan keduanya ditanggung oleh si pemuda. Barangkali lebih dari Rp 60 juta yang dibayarkan olehnya. Udin dan istri lalu berangkat ke Baitullah,
menunaikan semua ritual dan kewajiban dalam ibadah haji. Hingga ia dan istri kembali ke tanah air lagi dengan selamat.
Sesampainya di tanah air, banyak kerabat, saudara dan tetangga datang bersilaturahmi. Udin membagikan oleh-oleh berupa air zamzam, kurma dan banyak lagi.
Banyak orang senang menerima hadiah tersebut. Mereka pun banyak menanyakan pengalaman Udin dan istri selama berhaji.
Udin menjawab semua pertanyaan orang yang datang sebisanya. Hingga saat ada seseorang yang bertanya tentang bagaimana caranya kang Udin dapat berhaji bersama istri padahal usahanya hanya sekedar menjual gorengan.
Rupanya… banyak yang belum tahu dengan cara apa Udin berangkat haji. Dan memang, ia merahasiakan hal itu selama ini. Udin pun menjawab seadanya, “Dulu…, saya sedekah pentil singkong kepada seorang anak yatim, eh gak taunya dengan sedekah itu saya dan istri berangkat haji. Kalo tahu begini, coba dulu saya sedekah singkong beneran sama tuh anak…!”
Udin mencoba berkelakar dengan jawabannya, dan hal itu membuat hadirin tertawa terbahak mendengarnya. Dalam hati, Udin bersyukur kepada Allah Swt Yang Sungguh menepati janji kepada dirinya.
Sungguh Allah Swt Maha Kuasa untuk membalas amal seorang hamba, bahkan hingga 700 kali lipat atau lebih dari itu.
Bobby Herwibowo
SUMBER: eramuslim.com

Jumat, 24 Mei 2013

oleh : H. Risman Muchtar, S.SOs.I (Anggota Majelis Tabligh PP Muhammadiyah)



".....dan tolong menolonglah kamu dalam mengerjakan kebaikan dan taqwa dan janganlah kamu tolong menolong dalam melakukan perbuatan dosa dan permusuhan. betaqwalah kepada Allah, sungguh Allah sangat berat siksa-Nya" (Al Maidah/5:2)

Persoalan suap menyuap sekarang ini tidak hanya dominan dalam urusan yang berkaitan dengan birokrasi, peradilan, perpajakan dan urusan lain yang berhubungan dengan pemerintah. Tetapi masalah suap ini, kini telah merambah ke wilayah urusan yang berkaitan dengan ibadah, seperti suap untuk mendapatkan prioritas dipercepat keberangkatan menunaikan ibadah haji, yang seharusnya ia harus menunggu dua sampai tiga tahun lagi. termasuk juga suap menyuap dalam bidang politik seperti praktek membeli suara melalui serangan fajar atau suap yang diberikan kepada penyelenggara pemilihan umum mulai dari TPS sampai ke KPU.

Suap dalam bahasa Arab disebut "risywah" yang artinya pemberian uang secara tidak resmi dari seseorang kepada orang lain untuk memudahkan atau melicinkan suatu urusan atau juga untuk menghindari suatu prosedur yang dianggap menyulitkan suatu prosedur yang dianggap menyulitkan seperti urusan perizinan, mendapatkan paspor, pengurusan SIM, dan lain-lain. Suap juga dipahami sebagai seuatu pemberian yang dilakukan secara terpaksa atau tidak terpaksa olwh aeorang untuk mendapatkan keringanan atau terlepas dari jeratan hukum. Di dunia perpolitikan khususnya di Indonesia, sekarang ini lagi marak terjadi dengan apa yang disebut juga politik transaksional atau sering disebut money politic. Sebagai contohh, misalnya untuk meloloskan sebuah rancangan UU di DPR RI, ada pihak-pihak tertentu memberikan sejumlah uang kepada sejumlah uang kepada sejumlah anggota dewan sebagai hadiah atau gratifikasi. Bentuk lain dari politik uang adalah membeli suara rakyat pada saat PEMILU (Pemilihan Umum).

Politik transaksional seperti di atas dalam pandangan Islam termasuk perbuatan yang haram dan yang dilaknati oleh Allah SWT, karena perbuatan tersebut termasuk kategori risywah. Sebagaimana hadits Rasulullah SAW: " Allah mengutuk orang yang menyuap (Ar-Rasyi) dan yang disuap (murtasyi) dan perantara (broker) antara yang menyuap dan disuap" (HR Ahmad). Dan bagaimana Indonesia ini akan melahirkan pemimpin-pemimpin berkualitas, jika proses PEMILU/KADA saja dikotori oleh praktek suap ini. Seorang pemimpin (kepala daerah, anggota DPR, presiden dsb) jika terpilih dengan cara membeli suara rakyat, niscaya dia memperoleh kedudukan dengan cara tidak shah menurut pandangan hukum Islam alias haram.

Segala uang yang didapat dari proses korupsi sama halnya dengan uang curian. Walaupun uang tersebut digunakan untuk zakat, ibadah haji, atau sedekah, maka uang haram ini tidak akan diterima oleh Allah SWT. Analogi yang sama dengan orang yang mendapatkan kedudukan atau jabatan dengan cara haram, maka hukumnya pun haram. Seperti yang telah disebutkan di awal firman Allah pada QS. Al Maidah ayat 2 bahwa hukum ini juga berlaku bagi orang yang bersekongkol atau membantu dalam hal yang buruk.

Seseorang yang memilih seseorang pemimpin karena disuap, maka sesungguhnya ia telah membantu melakukan perbuatan terkutuk yang diharamkan oleh Allah SWT dan dai juga telah bekerjasama melakuakan perbuatan dosa. Jika pemimpin yang dipihnya itu melakukan korupsi untuk mengembalikan modalnya kampanye, maka orang yang memilihnuya tadi pun kecipratan dosanya


Sumber : Majelis Tabligh Edisi 23/2/2 Jumadil Akhir-Rajab 1434 H